Jurnal Predator

Jurnal Predator, Apa sih itu?

Baru-baru ini, dalam dunia akademik kita dikenal istilah jurnal predator, atau dengan bahasa yang lebih Indonesia, jurnal pemangsa. Pemangsa? Bagaimana bisa? Apa sih sebenarnya yang dimaksud dengan jurnal pemangsa itu?

Fenomena jurnal predator ini sendiri ditemukan oleh Jeffrey Beall dari University of Colorado, yang ditulis di Jurnal Nature. Jeffrey menemukan bahwa hampir 98% jurnal di internet adalah jurnal predator. Definisi jurnal predator sendiri, menurut Yunita, seorang dosen dari Fakultas Ilmu Sosial dan Politik, dan salah seorang penilai juri internasional, “adalah sebuah jurnal yang tidak melewati proses peer review, tidak melewati proses penilaian oleh International Board”, katanya. “Tentunya kredibilitas artikel ini diragukan”.

Proses peer review yang dilewatkan ini, tidak tanpa pengorbanan. “Perlu membayar USD 500 sampai USD 1800 untuk melangkahi proses ini”, kata Agustino Zulys, anggota DRPM UI yang menyelidiki masalah jurnal predator ini.

Lalu, apa sebenarnya tujuan dari jurnal predator ini? “Proses peer review yang ketat menyulitkan para akademisi untuk masuk ke dalam jurnal tersebut.”, tutur Agustino. “Para pengelola jurnal tersebut memberi kesempatan pada akademisi yang lugu agar dapat mempublikasikan artikelnya dengan cepat, dengan cara membayar lebih mahal”. Terry Mart, seorang dosen fisika yang mengamati perkembangan jurnal internasional, menambahkan, “Perlu dijelaskan disini bahwa jurnal predator paling banyak dikendalikan dari negara India,Pakistan dan Nigeria. Dan mereka yang paling banyak menulis di jurnal predator adalah para peneliti dari negara-negara berkembang. Ini semacam hubungan yang saling menguntungkan. Mereka membutuhkan aktualisasi diri melalui jurnal dengan label internasional, karena tuntutan profesi untuk dana hibah atau untuk kenaikan pangkat. Dengan cap internasional yang dimiliki dan tidak adanya

proses seleksi, tentu banyak peneliti yang tergiur untuk memasukan tulisannya, meskipun mereka harus membayar dalam jumlah yang tidak sedikit.”

Bagaimana proses jurnal predator dimunculkan dalam jurnal? Terry Mart mengungkapkan bahwa kini telah ada yang namanya OJS atau Open Journal System. “Sistem ini ini. Sekarang ada piranti lunak yang namanya Open Journal System (OJS) yang mudah dipasang dan bersifat gratis karena bersifat open-source. OJS memberi fasilitas pemrosesan makalah ilmiah dari sejak penerimaan, penjurian, hingga penerbitan makalah secara profesional. Jadi, seperti kata Beall, prinsip pendirian jurnal predator ini adalah: set up homepage, sending spam emails to scientists, seat back and relax, wait for customer, bahkan anak remaja bisa melakukannya.”

Bagaimana mendeteksi suatu jurnal itu predator atau bukan? “Ada tiga hal yang perlu di cek di jurnal tersebut.”, tukas Agustino. “Pertama, edisi jurnal tersebut, telah terbit berapa kali. Kedua, Alamat dewan editor, apakah memang dewan editornya berada di situ, serta keterangan lain tentang dewan editor tersebut, seperti track recordnya. Terakhir, nama dan deskripsi terkait jurnal tersebut.”

Apakah sejauh ini ada mahasiswa UI yang melakukan praktik jurnal predator ini? “Sudah ada 19 artikel sejak kami melakukan pemeriksaan tahun 2012 lalu”, jawab Agustino. “Baru-baru ini kami juga mendapat sertifikat dari IOSR karena ada mahasiswa yang menulis di jurnal tersebut. Padahal, dalam sejarahnya, tidak ada sertifikat penghargaan untuk penulisan jurnal.”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s