Karma.

Kisah ini adalah drama yang gua buat berdasarkan dari ide yang dibuat gua, Sangadji, Novie, Adriyanto dan Mustika untuk tugas akhir MPKT kelompok kami. Cerita ini mengisahkan tentang evolusi politikus, dari politikus menjadi koruptor, dan bagaimana seorang aktivis menjadi politikus dan menjalani beratnya hidup menjadi politikus. Naskah ini adalah draft pertama dan gua yang ditugaskan kelompok untuk membuatnya karena mereka berpikir gua memiliki pengalaman teater. Oke..selamat menikmati.

 

Scene 1

Siang terik, sekumpulan mahasiswa berjaket kuning berkumpul di depan gedung Nusantara, atau yang dikenal sebagai gedung MPR/DPR. Mahasiswa-mahasiswa ini ingin melakukan demonstrasi protes terhadap kenaikan BBM. Mereka kini sudah selesai membentuk formasi, dan kini menunggu pemimpin demonstran tersebut memulai demonstrasi tersebut.

Muncullah seorang lelaki berbaju kuning, dengan ikat kepala berwarna merah, berdiri di atas bak truk, yang sudah disiapkan sebagai podium bagi pemimpin demonstran berbicara.

Adrianus : Selamat siang semua! (dengan lantang bersuara di megaphone)

Demonstran : Siang!

Adrianus : Ya, terima kasih semuanya atas balasannya. Hari ini, kita semua berkumpul dan berpanas-panasan di sini, untuk satu tujuan dan satu tujuan saja. Kita hari ini akan memberikan aspirasi kita, komentar kita, dan unek-unek kita terhadap pemerintah kita ini. Pemerintah kita telah menaikkan harga BBM, dengan tujuan untuk meningkatkan APBN. Namun, dibalik tujuan yang mulia itu, kami, selaku tim BEM Universitas Coño, menemukan bahwa ada indikasi korupsi.

Seorang demonstran : Benar (menyeletuk dan berteriak)

Adrianus : Dana APBN sekarang semestinya cukup untuk memenuhi kebutuhan negara. Namun, mengapa pemerintah kita meningkatkannya lagi, dan menyusahkan rakyat. Apa itu bukan korupsi?

Demonstran : Korupsi! (Menjawab dengan berteriak lantang dan bersamaan)

Adrianus : Saudaraku! (Menunjuk ke gedung DPR/MPR, dan kemudian berkata) Pemerintah kita telah dipenuhi rayap-rayap pengerat uang! Pemerintah kita telah melupakan dasar-dasar yang telah dibangun oleh para pendiri negara kita! Pemerintah kita telah lari dari tujuan semula “mensejahterakan rakyat”. Apa pemerintah kita masih punya hati?

Demonstran : Tidak! (Menjawab dengan berteriak lantang dan bersamaan)

Adrianus : Hidup Rakyat Indonesia! Hidup Rakyat Indonesia (Berteriak dengan lantang dengan megaphone)

Demonstran : Hidup Rakyat Indonesia! Hidup Rakyat Indonesia! (Mengikuti pemimpin demonstran)

Adrianus : Hidup Rakyat Indonesia! Hidup Rakyat Indonesia!

Scene 2

Adrianus, kini telah mendapat jabatan di pemerintahan sebagai anggota DPR. Namun, setelah menjabat, ternyata berkebalikan dengan apa yang diperjuangkannya sebagai aktivis. Ia lebih memilih bersenang-senang ketimbang memperjuangkan rakyat. Ia sering menerima tuduhan korupsi dari berbagai pihak, namun, semuanya gagal menjatuhkannya. Namun, banyak sekali pihak yang tidak menyukainya. Salah satunya, mahasiswa-mahasiswa dari universitasnya yang dahulu, yang kali ini mengadakan demonstran di gedung tempat Ia bekerja, gedung DPR/MPR.

Di dalam ruangan kantor gedung tersebut, Adrianus sedang duduk di kursi kantornya yang nyaman sambil berbicara dengan seseorang di telpon selularnya.

Adrianus : (duduk berleha-leha di kursinya sambil mengangkat kakinya di atas meja) Iya, sip. Mulai besok saya akan sahkan proposal pembangunan 600 gedung sekolah yang anda tawarkan. Tapi, ingat, fulusnya ditransfer dulu ya.

Polisi : (datang membuka pintu tanpa mengetuk dan dengan keras) Pak Adrianus! (dengan suara yang keras)

Adrianus : (terkejut, dan memukul mejanya) Apa-apaan sih kamu? Membuka pintu nggak ketuk-ketuk dulu! Pernah diajarin tata krama tidak sih?

Polisi : Ini darurat pak! (Berkata dengan terbata-bata), demonstran di depan telah berteriak-teriak menghina bapak di depan!

Adrianus : Ya sudah biar saja (Ia meletakkan kakinya lagi di atas meja), saya saja tidak sakit hati kok. Kok kamu yang harus repot?

Polisi : Kami juga kepanasan pak sebenarnya. Mengawasi jalannya demonstasi sambil panas-panas.

Adrianus : Lho, kamu kan sudah dibayar. Kalau kamu tidak mau capek, ya sudah, kembalikan saja duit upah kamu sini. Mending buat saya traktir teman-teman saya makan.

Keadaan hening sejenak. Polisi dengan nafas yang stabil, ketakutan setelah dimarahi si ‘bos’.

Adrianus : (berdecak) Ya sudah, ya sudah. Saya juga nanti dituntut oleh mereka jika saya tidak melayani mereka. Hmm…ya sudah, panggil saja pemimpinnya kemari.

Polisi : Baik pak! (mengangguk, dan kemudian cepat-cepat keluar)

Setelah polisi itu keluar….

Adrianus : (menghela napas) Oke, apa yang kau miliki untuk melawanku, bocah? (Menatap tajam pemimpin demonstran yang masuk ke dalam gedung DPR dengan tajam)

 

Scene 3

Kembali ke kantor Adrianus, polisi telah membawa Adriyanto, pemimpin demonstran, masuk. Keduanya saling menatap dingin satu sama lain.

Adrianus : Ya silakan, layanan pengaduan konsumen sudah saya buka hari ini, silakan mulai pengaduan anda. (Tawa nyinyir terbentuk di wajahnya) Silakan duduk.

Adriyanto : (kemudian duduk di sebuah kursi dekat meja Adrianus)Anda pikir ini lucu?! (Wajah penuh amarah dan kekecewaan muncul di wajahnya) Anda telah melakukan kesalahan besar dengan menaikkan harga BBM! Anda telah menyiksa rakyat di luar sana..(pembicaraannya di potong oleh Adrianus)

Adrianus : Woo..woo…santai dulu mas. Anda kan baru sampai di sini, dari tadi di luar kan panas-panasan. Kenapa tidak ngaso saja dulu? Di sini kan nyaman dengan AC. (menyalakan cerutu di mulutnya). Anda merokok? Kalau ingin, silakan ambil (menawarkan sekotak rokok)

Adriyanto : (dengan amarah yang memuncak) Asal bapak tahu saja ya. Saya rela berpanas-panasan di sini, memperjuangkan kebenaran. Daripada bapak, menikmati semua ini dengan cara yang haram! (nada penuh amarah jelas terdengar)

Adrianus : (menghela napas) Oke oke. Jadi kamu mau langsung mulai saja? Oke (menaruh kotak rokoknya ke dalam laci mejanya). Saya akan langsung mulai saja ya. Saya akan jujur saja sama kamu. Saya memang melakukan korupsi.

Adriyanto : (heran) Tetapi, mengapa bapak masih bisa santai dan berleha-leha? Apa bapak tidak merasa bersalah?

Adrianus : Lho, buat apa saya merasa bersalah? Toh apa yang saya lakukan semata untuk kehidupan (mengangkat bahunya seakan tidak tahu apa-apa)

Adriyanto : (lagi-lagi heran) Kehidupan?

Adrianus : Ya, kehidupan saya.

Keadaan pun menjadi hening sesaat. Adriyanto benar-benar bingung dengan apa yang baru saja didengarnya. Bagaimana bisa seseorang berbuat kezaliman, namun tidak merasa bersalah. Dalam pikirannya, Adriyanto berpikir “Apakah orang ini tidak memiliki hati nurani?”

Adrianus : (Tertawa). Mari saya ceritakan sebuah kisah. Saya dulu, tentunya kamu tahu, adalah seorang mahasiswa pergerakan seperti kamu. Menuntut pemerintah untuk memurahkan harga BBM. Itu sekitar 12 tahun yang lalu. Tetapi, mengapa saya menjadi seperti ini sekarang? Karena, masyarakat mengkhianati saya. Masyarakat tidak mengerti kesusahan saya membuat kebijakan agar penghidupan masyarakat lebih baik. Mereka mencerca dan menghina saya, dan bahkan mereka meminta saya turun. (menghentikan ceritanya sejenak)

Adrianus : Lalu, apa yang saya pikirkan? Saya tidak terima dikhianati seperti itu. Saya pun memberikan hal yang sama kepada mereka. Saya mengkhianati mereka, agar mereka merasakan apa yang saya rasakan. Lebih baik saya mengkhianati dunia, daripada dunia mengkhianati saya. (kembali menghentikan ceritanya sejenak, dan menghisap rokok, kemudian menghembuskan asapnya).

Adrianus : (dengan tenang) Mungkin suatu saat kamu akan merasakan apa yang saya rasakan.

Adriyanto : (dengan penuh amarah) Dulu IPK bapak berapa sih? Bisa-bisanya bapak berpikir sebodoh itu? (Dipotong oleh Adrianus)

Adrianus : IPK saya 3.99. (dan pembicaraan terhenti sebentar)

Adriyanto : Dengan IPK setinggi itu, bapak bisa berpikir sebodoh ini? Jangan-jangan dulunya bapak menyogok dosen juga agar mendapat nilai seperti itu..(dengan nada yang menyindir)

Adrianus : Wow. Galak sekali tadi. (memberikan tepuk tangan, dengan senyum yang meledek) Bagus sekali!

Adriyanto : Apakah bapak tahu ? Menjadi seorang pemimpin adalah pekerjaan paling menyulitkan dan paling membuat depresi. Mengapa? Karena seorang pemimpin tidak dapat menangis dan menceritakan kebingungannya ketika mendapatkan masalah. Menjadi pemimpin, berarti menjadi seseorang yang kesepian, seseorang yang berjalan sendiri.Jika Ia menangis dan menceritakan kesulitannya, Ia akan memberikan teladan yang buruk bagi rakyatnya, dan bangsanya pun tidak pernah kuat! (Dengan lantang)

Adriyanto : Pemimpin adalah seseorang yang paling berani. Karena seorang pemimpin tertawa ketika masalah menghadapinya! Meskipun sebenarnya dalam hatinya Ia memiliki banyak kegundahan. Dengan tawa diwajahnya, Ia terus maju, pantang mundur dan tidak takut menghadapi masalahnya. Bandingkan dengan diri anda sekarang. Pengecut! (Berteriak kepada Adrianus)

Adrianus : Uh…galak amat mas (lagi-lagi menyindir Adrianus). Kamu masih bau kecut saja sudah sombong. Kamu belum berada di posisi saya. Ditekan. Kamu enak berbicara seperti itu. Dalam prosesnya sendiri, kamu akan mengalami penderitaan. Bagai dipecut besi. Dalam pepatah Inggris , “Talk is Cheap”. Jangan terlalu terpaku oleh teori, seperti Pancasila, dan teori yang kamu pelajari di universitas kamu itu. Universitas kamu saja masih belum benar, korupsi dana pembangunan.

Kemudian pembicaraan terhenti lagi. Adriyanto, ingin membalas, namun Ia berpikir percuma saja karena Adrianus sungguh keras kepala.

Adrianus : Saya rasa cukup penjelasan saya, dan tidak perlu ada yang dibicarakan lagi disini. Polisi! (berteriak) Tolong antarkan Adriyanto keluar, urusan kami sudah selesai.

Polisi : Siap pak! (Mengalihkan pandangannya ke Adriyanto), Ayo Mas. Kita keluar.

Adriyanto : Anda harus ingat Pak Adrianus. Veritas, Probitas, dan Iustitia. Moto universitas kita dahulu. Terutama pada bagian Iustitia, keadilan. Suatu saat keadilan akan menegakkan anda! (Berteriak dengan lantang, dan kemudian berjalan menuju pintu keluar).

Adrianus : Silakan, keadilan tangkap saya. Sekarang bila perlu. Jika sudah memiliki bukti yang tepat. Saya sudah memiliki banyak jurus untuk memenangi permainan ini. (Tertawa jahat).

Kemudian, tak lama Adriyanto keluar, seorang pria berjas, membawa amplop, masuk ke dalam kantor Adrianus dan disapa olehnya.

Adrianus : Halo, Pak Sangadji. Apa kabar? Ada penawaran menarik apa untuk saya?

Sangadji : Hehehe…ini pak (mengambil isi amplop tersebut dan memberikan isinya kepada Adrianus), kan ada susidi BLT untuk masyarakat kecil nih. Kebetulan saya disuruh mengesahkan proposalnya. Nah, saya ingin menaikkan jumlah subsidinya. Jumlah yang kita naikkan itu nanti saya ambil dan saya bagi-bagi ke kolega saya, seperti biasa. Pak John, Pak Paul sudah join. Hehehe…bapak join nggak?

Adrianus : Hahaha..pasti join lah. Masak yang menguntungkan saya nggak ambil. Hehehe…

Scene Extra :

7 tahun kemudian, Adriyanto menjadi politisi. Adrianus, yang pada tahun-tahun sebelumnya telah terbukti korupsi, dipenjara seumur hidup dalam penjara Tipikor. Adriyanto, pergi mengunjunginya dalam penjara itu. Penjara itu berbeda dengan apa yang dibayangkan Adriyanto. Bukan ruangan sempit, malahan sebuah ruangan luas, dengan fasiloitas mewah seperti TV, sofa dan AC di dalamnya. Adriyanto menatap Adrianus yang sedang duduk di sofanya sambil membaca korannya. Adrianus melihatnya di luar.

Adrianus : Ah, Adriyanto, apa kabar? Hahaha…apa saya bilang? Korupsi saja. Enak kok. Ini saya dapat kamar hotel bintang lima di sini. Saya nggak perlu beli rumah jadinya. Saya berterima kasih kepada rakyat karena uang mereka yang membantu membangun rumah peristirahatan bagi saya ini. Saya salah mengira sejak awal. Ternyata mereka mengerti saya. Hahaha..(Tertawa jahat)

Adriyanto : Hingga saat ini, kaupun belum menyesal? (heran)

Adrianus : Ingat Adriyanto. Suatu saat kamu akan menyadari apa yang saya katakan itu benar. Korupsi itu enak. Egois tapi enak. Kebanyakan orang takut untuk melakukannya. Mereka mau, tetapi membiarkan peraturan menakuti mereka. Jadilah diri sendiri, jangan munafik.

Adriyanto : Dasar orang gila!(menatap Adrianus dengan dingin, sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Kemudian pergi menginggalkan Adrianus)

Adrianus : Hahahahahaha (tertawa jahat kembali) Ingat Adriyanto, apa yang saya katakan hari ini! Ingat!

Scene 4

Tiga bulan kemudian, mulailah muncul masalah untuk Adriyanto. Masyarakat pun mulai meragukan kebijakan. Menurut rakyat, kebijakannya, yaitu mengurangi subsidi BBM, dianggap kontroversial dan merugikan. Adriyanto, yang kini sedang duduk di kantornya, merasa stress dan depresi. Di hadapannya, Ia melihat serbuan berita yang menjelek-jelekkan kepemimpinannya.

Adriyanto : (memukul mejanya sambil melihat ke layar monitornya)

Resepsionis : (mengetuk pintu dan bersuara) Permisi, pak.

Adriyanto : Ya silakan masuk (menghela napas sejenak)

Novie : Haaaiiii! (Menyapa dengan tangan dilambaikan dan sumringah terpampang jelas di wajahnya)

Adriyanto : Halo sayang. (Menjawab dengan datar sambil melihat layar monitor)

Novie : Lihat nih aku bawain kamu makanan…(tiba-tiba kalimatnya terputus setelah melihat Adriyanto tidak memerhatikannya. Kemudian menghampiri Adriyanto dan melihat ke layar monitornya)

Novie : “Adriyanto penyiksa rakyat”, wah berani sekali mereka berbicara seperti itu. (kemudian berdecak)

Novie kemudian dengan sengaja mencabut kabel power supply Adriyanto, dan matilah komputernya.

Adriyanto : (penuh amarah) Kamu tuh apa-apaan sih!?

Novie : (tolak pinggang) Harusnya aku yang nanya begitu! (dengan penuh amarah juga) Sudah semalaman kamu tidak pulang. Aku sudah mencoba mengirimkan SMS, menelpon, bahkan mengirimkan e-mail. Tetapi, tidak ada respon.

Adriyanto : Ya, kamu tahu kan aku sibuk.

Novie : (berdecak) Kamu ingat tidak sih, salah satu syarat dan prasyarat waktu aku menikahi kamu dulu? Aku meminta keluarga didahulukan. Mana janjimu?? Semalaman anakmu menunggu, ingin memperlihatkan gambarnya kepadamu, tetapi kamu tidak pulang-pulang. (berbicara tanpa henti, mengeluarkan isi hati, kemudian berhenti sejenak) Bagaimana kalau kamu sakit? Kalau kamu sakit, bagaimana memimpin negara ini dengan benar. Me-manage diri sendiri sama dengan me-manage sebuah negara. Jika kamu tidak mengatur dirimu sendiri, bagaimana kamu dapat memimpin sebuah negara?

Adriyanto pun terdiam. Kagum dengan perkataan istrinya, sekaligus takut dengannya. Pada akhirnya, Ia duduk dan memakannya. Novie, menghampirinya dan duduk di sebelahnya.

Novie : (menunjuk mata Adriyanto) tuh kan, mata kamu berkantung! Ini pasti kamu kurang tidur, atau bahkan tidak tidur sama sekali. Coba cek badan kamu panas tidak? (memegang dahi Adriyanto) Wah, panas sekali. Hmm..habis ini kamu harus pulang. Secepatnya.

Adriyanto : Tapi sayang….(kalimatnya terpotong oleh Novie)

Novie : Tidak ada tapi-tapi. Kamu harus cepat pulang. Badanmu sudah sesakit ini. Jika kamu sakit lebih parah lagi, nanti aku yang capek. Sudah, kamu harus cepat pulang. Ayo, cepat habiskan makananmu, kita harus pulang secepatnya.

Adriyanto : Ya, sayang. (Menurut saja)

Scene 5

Adriyanto yang kini sedang beristirahat di rumah, tiba-tiba mendapat kunjungan tamu. Tamu itu adalah Sangadji, seorang koleganya di DPR/MPR.

Sangadji : Ah, Pak Adriyanto. Apa kabar? (dengan sumringah)

Adriyanto : Baik-baik saja. Ada apa bapak kemari?

Sangadji : Ah, ini pak. (sambil memberikan sebuah amplop) Saya, bersama Pak Denny dan Pak Ruli, telah bekerja sama untuk mendapatkan “Apel Malang” untuk proyek pembangunan gedung olahraga di Papua. Bapak ingin ikutan tidak?

Adriyanto : Apel Malang? (heran)

Sangadji : Rupiah pak. Kalau untuk Dollar, Apel Washington.

Adriyanto : Maksudnya kerja sama di sini itu apa? Saya berinvestasi begitu? (masih terheran)

Sangadji : Hahaha…bapak baru pertama kali di sini. Wajar belum tahu sistemnya. Saya akan berbicara terang-terangan saja ya pak. Kita akan korupsi?

Adriyanto : Korupsi?

Sangadji : Iya.

Keadaan terhening sejenak. Lalu Adriyanto menjawab.

Adriyanto : Oh, korupsi. Nggak deh. Saya tidak mau ikutan.

Sangadji : Bapak yakin? Ini bisa mendapatkan uang yang banyak lho..

Adriyanto : Tidak.

Sangadji : Apakah anda yakin?

Tiba-tiba Novie datang dan menghampiri mereka berdua, dan mengambil amplop yang ada di meja, dan kemudian merobeknya.

Novie : Suami saya tidak ingin. (berbicara dengan tegas), sekarang cepat pergi atau saya panggil polisi.

Sangadji : Hahahaha (tertawa jahat) sudah ada yang sok pahlawan lagi di negara ini. (kemudian berdiri dan beranjak ke pintu keluar). Bersiaplah pak. Sebentar lagi saya dan kolega-kolega saya akan segera menjatuhkan bapak. Jika bapak ingin berubah pikiran, mungkin bapak bisa menghubungi nomor ini (memberikan sebuah kartu  nama dan ditaruh di atas meja). Hahahahaha..selamat tinggal, semoga kita berjumpa lagi. Hahahahaha…(tertawa jahat lalu pergi dari kediaman Adriyanto)

Novie : Sudah sayang. (berusaha menenangkan Adriyanto) Paling-paling itu hanya omong kosong untuk menakut-nakuti kamu saja. Yuk, kita makan, rendang kesayanganmu sudah menunggu nih.

Adriyanto : (masih masygul dengan perkataan Sangadji tadi) Oke..

Scene 6

Benar saja perkataan Sangadji. Seminggu kemudian, Adriyanto diadukan ke KPK, dan diberikan sebuah bukti palsu bahwa Ia korupsi. Sampai 2 bulan kemudian, Adriyanto tidak memiliki bukti penyangkalan untuk menyangkal bukti palsu tersebut. Sangadji pun naik statusnya menjadi terdakwa.

Adriyanto, kini sedang ada dalam ruang istirahat di pengadilan, ditemani istri dan anaknya. Adriyanto, kini depresi dan bingung terhadap sesuatu yang harus dihadapinya.

Novie : (menepuk bahu Adriyanto) Sayang, kita berdoa saja kepada Allah ya. Pasti Allah akan memberikan jalan yang terbaik.

Adriyanto : Aku tidak bersalah sayang. Aku tidak bersalah. (Raut mukanya begitu sedih)

Novie : Sudah-sudah sayang. Lihat muka aku. (Adriyanto menoleh ke arahnya) Ingat, serahkan saja kepada Allah. Apapun yang terjadi, apaun yang kamu hadapi, serahkan semua kepadaNya, pasti itu jalan yang terbaik untuk kamu.

Adriyanto melihat wajah istrinya, ingin sekali tersenyum, bahkan tertawa. Seakan, di wajah istrinya itu ada sebuah kebahagiaan abadi. Namun, mengingat masalahnya itu, Adriyanto pun kembali sedih dan memalingkan wajahnya dari Novie. Tidak lama kemudian, seseorang datang dan menghampiri Adriyanto.

Orang itu : Pak masa reses sudah habis, sidang akan kembali dilanjutkan.

Masuklah Adriyanto dan Novie ke dalam ruang sidang, dan duduk di depan hakim. Istrinya, duduk di dekat kursi juri. Hakim pun memulai sidang.

Hakim : (mengetuk palu). Ya sidang dimulai lagi. Sesuai dengan pernyataan saudara Sangadji, dan bukti-bukti yang diberikan olehnya, terbukti anda telah melakukan tindak pidana korupsi. Jika tidak ada pembelaan, maka saudara Adriyanto dinyatakan bersalah.

Adriyanto : (terdiam dan terhening)

Pengacara yang dimiliki Adriyanto hanyalah pengacara yang disediakan pengadilan, bukan pengacara yang disewanya. Pengacara ini pun tidak dapat membantu karena Adriyanto tidak memberikan apapun kepadanya, sehingga pengacaranya tidak membelanya.

Hakim : (akan mengetuk palu)Dengan ini saya nyatakan, saudara Adriyanto, ber…(perkataannya terpotong oleh Adriyanto)

Adriyanto : (berdiri dan berbicara dengan lantang) Tunggu sebentar, pak Hakim! Saya ingin mengeluarkan kata-kata terakhir saya sebelum saya masuk ke dalam tahanan. Saya, Adriyanto, Mantan Pejabat komisi IX DPR, ingin mengungkapkan bahwa saya, adalah seseorang yang sangat mencintai negara saya. Saya, tidak tahu apa yang sudah saya lakukan, saya tidak ingat dan saya yakin bahwa saya tidak pernah melakukan tindak pidana dan tindak haram seperti korupsi. Saya begitu mencintai negara ini. Dari sabang sampai merauke. Dari luar hingga dalam. Saya besar di negara ini, saya tumbuh di negeri ini. Saya, merasa berhutang budi terhadap negara ini, maka dari itu saya ingin menjadi pejabat untuk membangun negara saya yang kini sedang tidak terbang setinggi dahulu. Saya mungkin, selama menjabat, telah membuat banyak kebijakan kontroversial. Ya memang, kebijakan ini merugikan khalayak banyak. Tapi, saya melakukannya demi masa depan negara ini kelak! Saya ingin masyarakat kita, negara kita menjadi lebih kuat ke depannya. Saya ingin negara ini memiliki modal yang dibutuhkannya untuk maju!

Keadaan pun hening sejenak, setelah suara Adriyanto yang membahana di ruang sidang.

Adriyanto : Apapun yang terjadi pada saya, saya siap menerimanya. Saya tidak akan lari, dan saya akan patuh terhadap takdir. Karena saya tahu, bahwa saya tidak berslah, dan apa yang sudah saya lakukan sebelumnya adalah untuk Ibu pertiwi, Indonesia.

Lalu, Adriyanto, dibawa polisi menuju ke Penjara Tipikor. Di pintu keluar gedung pengadilan tersebut, Adriyanto dihampiri istrinya, dengan raut muka sedih. Matanya berkaca-kaca menahan tangis.

Novie : Berjaga-jagalah di sana, sayang. (Wajahnya begitu sedih, mau menangis tetapi ditahan)

Adriyanto : Ya sayang. Terima kasih kamu telah memberikan dukungan kepadaku selama ini. Aku akan selalu ingat kasih sayang yang kauberikan untukku.

Tidak lama kemudian, Adriyanto, dengan polisi, naik mobil tahanan, dan pergi bersama polisi. Kemudian pergi ke penjara.

 

 

 

 

 

Scene 1

Siang terik, sekumpulan mahasiswa berjaket kuning berkumpul di depan gedung Nusantara, atau yang dikenal sebagai gedung MPR/DPR. Mahasiswa-mahasiswa ini ingin melakukan demonstrasi protes terhadap kenaikan BBM. Mereka kini sudah selesai membentuk formasi, dan kini menunggu pemimpin demonstran tersebut memulai demonstrasi tersebut.

Muncullah seorang lelaki berbaju kuning, dengan ikat kepala berwarna merah, berdiri di atas bak truk, yang sudah disiapkan sebagai podium bagi pemimpin demonstran berbicara.

Adrianus : Selamat siang semua! (dengan lantang bersuara di megaphone)

Demonstran : Siang!

Adrianus : Ya, terima kasih semuanya atas balasannya. Hari ini, kita semua berkumpul dan berpanas-panasan di sini, untuk satu tujuan dan satu tujuan saja. Kita hari ini akan memberikan aspirasi kita, komentar kita, dan unek-unek kita terhadap pemerintah kita ini. Pemerintah kita telah menaikkan harga BBM, dengan tujuan untuk meningkatkan APBN. Namun, dibalik tujuan yang mulia itu, kami, selaku tim BEM Universitas Coño, menemukan bahwa ada indikasi korupsi.

Seorang demonstran : Benar (menyeletuk dan berteriak)

Adrianus : Dana APBN sekarang semestinya cukup untuk memenuhi kebutuhan negara. Namun, mengapa pemerintah kita meningkatkannya lagi, dan menyusahkan rakyat. Apa itu bukan korupsi?

Demonstran : Korupsi! (Menjawab dengan berteriak lantang dan bersamaan)

Adrianus : Saudaraku! (Menunjuk ke gedung DPR/MPR, dan kemudian berkata) Pemerintah kita telah dipenuhi rayap-rayap pengerat uang! Pemerintah kita telah melupakan dasar-dasar yang telah dibangun oleh para pendiri negara kita! Pemerintah kita telah lari dari tujuan semula “mensejahterakan rakyat”. Apa pemerintah kita masih punya hati?

Demonstran : Tidak! (Menjawab dengan berteriak lantang dan bersamaan)

Adrianus : Hidup Rakyat Indonesia! Hidup Rakyat Indonesia (Berteriak dengan lantang dengan megaphone)

Demonstran : Hidup Rakyat Indonesia! Hidup Rakyat Indonesia! (Mengikuti pemimpin demonstran)

Adrianus : Hidup Rakyat Indonesia! Hidup Rakyat Indonesia!

Scene 2

Adrianus, kini telah mendapat jabatan di pemerintahan sebagai anggota DPR. Namun, setelah menjabat, ternyata berkebalikan dengan apa yang diperjuangkannya sebagai aktivis. Ia lebih memilih bersenang-senang ketimbang memperjuangkan rakyat. Ia sering menerima tuduhan korupsi dari berbagai pihak, namun, semuanya gagal menjatuhkannya. Namun, banyak sekali pihak yang tidak menyukainya. Salah satunya, mahasiswa-mahasiswa dari universitasnya yang dahulu, yang kali ini mengadakan demonstran di gedung tempat Ia bekerja, gedung DPR/MPR.

Di dalam ruangan kantor gedung tersebut, Adrianus sedang duduk di kursi kantornya yang nyaman sambil berbicara dengan seseorang di telpon selularnya.

Adrianus : (duduk berleha-leha di kursinya sambil mengangkat kakinya di atas meja) Iya, sip. Mulai besok saya akan sahkan proposal pembangunan 600 gedung sekolah yang anda tawarkan. Tapi, ingat, fulusnya ditransfer dulu ya.

Polisi : (datang membuka pintu tanpa mengetuk dan dengan keras) Pak Adrianus! (dengan suara yang keras)

Adrianus : (terkejut, dan memukul mejanya) Apa-apaan sih kamu? Membuka pintu nggak ketuk-ketuk dulu! Pernah diajarin tata krama tidak sih?

Polisi : Ini darurat pak! (Berkata dengan terbata-bata), demonstran di depan telah berteriak-teriak menghina bapak di depan!

Adrianus : Ya sudah biar saja (Ia meletakkan kakinya lagi di atas meja), saya saja tidak sakit hati kok. Kok kamu yang harus repot?

Polisi : Kami juga kepanasan pak sebenarnya. Mengawasi jalannya demonstasi sambil panas-panas.

Adrianus : Lho, kamu kan sudah dibayar. Kalau kamu tidak mau capek, ya sudah, kembalikan saja duit upah kamu sini. Mending buat saya traktir teman-teman saya makan.

Keadaan hening sejenak. Polisi dengan nafas yang stabil, ketakutan setelah dimarahi si ‘bos’.

Adrianus : (berdecak) Ya sudah, ya sudah. Saya juga nanti dituntut oleh mereka jika saya tidak melayani mereka. Hmm…ya sudah, panggil saja pemimpinnya kemari.

Polisi : Baik pak! (mengangguk, dan kemudian cepat-cepat keluar)

Setelah polisi itu keluar….

Adrianus : (menghela napas) Oke, apa yang kau miliki untuk melawanku, bocah? (Menatap tajam pemimpin demonstran yang masuk ke dalam gedung DPR dengan tajam)

 

Scene 3

Kembali ke kantor Adrianus, polisi telah membawa Adriyanto, pemimpin demonstran, masuk. Keduanya saling menatap dingin satu sama lain.

Adrianus : Ya silakan, layanan pengaduan konsumen sudah saya buka hari ini, silakan mulai pengaduan anda. (Tawa nyinyir terbentuk di wajahnya) Silakan duduk.

Adriyanto : (kemudian duduk di sebuah kursi dekat meja Adrianus)Anda pikir ini lucu?! (Wajah penuh amarah dan kekecewaan muncul di wajahnya) Anda telah melakukan kesalahan besar dengan menaikkan harga BBM! Anda telah menyiksa rakyat di luar sana..(pembicaraannya di potong oleh Adrianus)

Adrianus : Woo..woo…santai dulu mas. Anda kan baru sampai di sini, dari tadi di luar kan panas-panasan. Kenapa tidak ngaso saja dulu? Di sini kan nyaman dengan AC. (menyalakan cerutu di mulutnya). Anda merokok? Kalau ingin, silakan ambil (menawarkan sekotak rokok)

Adriyanto : (dengan amarah yang memuncak) Asal bapak tahu saja ya. Saya rela berpanas-panasan di sini, memperjuangkan kebenaran. Daripada bapak, menikmati semua ini dengan cara yang haram! (nada penuh amarah jelas terdengar)

Adrianus : (menghela napas) Oke oke. Jadi kamu mau langsung mulai saja? Oke (menaruh kotak rokoknya ke dalam laci mejanya). Saya akan langsung mulai saja ya. Saya akan jujur saja sama kamu. Saya memang melakukan korupsi.

Adriyanto : (heran) Tetapi, mengapa bapak masih bisa santai dan berleha-leha? Apa bapak tidak merasa bersalah?

Adrianus : Lho, buat apa saya merasa bersalah? Toh apa yang saya lakukan semata untuk kehidupan (mengangkat bahunya seakan tidak tahu apa-apa)

Adriyanto : (lagi-lagi heran) Kehidupan?

Adrianus : Ya, kehidupan saya.

Keadaan pun menjadi hening sesaat. Adriyanto benar-benar bingung dengan apa yang baru saja didengarnya. Bagaimana bisa seseorang berbuat kezaliman, namun tidak merasa bersalah. Dalam pikirannya, Adriyanto berpikir “Apakah orang ini tidak memiliki hati nurani?”

Adrianus : (Tertawa). Mari saya ceritakan sebuah kisah. Saya dulu, tentunya kamu tahu, adalah seorang mahasiswa pergerakan seperti kamu. Menuntut pemerintah untuk memurahkan harga BBM. Itu sekitar 12 tahun yang lalu. Tetapi, mengapa saya menjadi seperti ini sekarang? Karena, masyarakat mengkhianati saya. Masyarakat tidak mengerti kesusahan saya membuat kebijakan agar penghidupan masyarakat lebih baik. Mereka mencerca dan menghina saya, dan bahkan mereka meminta saya turun. (menghentikan ceritanya sejenak)

Adrianus : Lalu, apa yang saya pikirkan? Saya tidak terima dikhianati seperti itu. Saya pun memberikan hal yang sama kepada mereka. Saya mengkhianati mereka, agar mereka merasakan apa yang saya rasakan. Lebih baik saya mengkhianati dunia, daripada dunia mengkhianati saya. (kembali menghentikan ceritanya sejenak, dan menghisap rokok, kemudian menghembuskan asapnya).

Adrianus : (dengan tenang) Mungkin suatu saat kamu akan merasakan apa yang saya rasakan.

Adriyanto : (dengan penuh amarah) Dulu IPK bapak berapa sih? Bisa-bisanya bapak berpikir sebodoh itu? (Dipotong oleh Adrianus)

Adrianus : IPK saya 3.99. (dan pembicaraan terhenti sebentar)

Adriyanto : Dengan IPK setinggi itu, bapak bisa berpikir sebodoh ini? Jangan-jangan dulunya bapak menyogok dosen juga agar mendapat nilai seperti itu..(dengan nada yang menyindir)

Adrianus : Wow. Galak sekali tadi. (memberikan tepuk tangan, dengan senyum yang meledek) Bagus sekali!

Adriyanto : Apakah bapak tahu ? Menjadi seorang pemimpin adalah pekerjaan paling menyulitkan dan paling membuat depresi. Mengapa? Karena seorang pemimpin tidak dapat menangis dan menceritakan kebingungannya ketika mendapatkan masalah. Menjadi pemimpin, berarti menjadi seseorang yang kesepian, seseorang yang berjalan sendiri.Jika Ia menangis dan menceritakan kesulitannya, Ia akan memberikan teladan yang buruk bagi rakyatnya, dan bangsanya pun tidak pernah kuat! (Dengan lantang)

Adriyanto : Pemimpin adalah seseorang yang paling berani. Karena seorang pemimpin tertawa ketika masalah menghadapinya! Meskipun sebenarnya dalam hatinya Ia memiliki banyak kegundahan. Dengan tawa diwajahnya, Ia terus maju, pantang mundur dan tidak takut menghadapi masalahnya. Bandingkan dengan diri anda sekarang. Pengecut! (Berteriak kepada Adrianus)

Adrianus : Uh…galak amat mas (lagi-lagi menyindir Adrianus). Kamu masih bau kecut saja sudah sombong. Kamu belum berada di posisi saya. Ditekan. Kamu enak berbicara seperti itu. Dalam prosesnya sendiri, kamu akan mengalami penderitaan. Bagai dipecut besi. Dalam pepatah Inggris , “Talk is Cheap”. Jangan terlalu terpaku oleh teori, seperti Pancasila, dan teori yang kamu pelajari di universitas kamu itu. Universitas kamu saja masih belum benar, korupsi dana pembangunan.

Kemudian pembicaraan terhenti lagi. Adriyanto, ingin membalas, namun Ia berpikir percuma saja karena Adrianus sungguh keras kepala.

Adrianus : Saya rasa cukup penjelasan saya, dan tidak perlu ada yang dibicarakan lagi disini. Polisi! (berteriak) Tolong antarkan Adriyanto keluar, urusan kami sudah selesai.

Polisi : Siap pak! (Mengalihkan pandangannya ke Adriyanto), Ayo Mas. Kita keluar.

Adriyanto : Anda harus ingat Pak Adrianus. Veritas, Probitas, dan Iustitia. Moto universitas kita dahulu. Terutama pada bagian Iustitia, keadilan. Suatu saat keadilan akan menegakkan anda! (Berteriak dengan lantang, dan kemudian berjalan menuju pintu keluar).

Adrianus : Silakan, keadilan tangkap saya. Sekarang bila perlu. Jika sudah memiliki bukti yang tepat. Saya sudah memiliki banyak jurus untuk memenangi permainan ini. (Tertawa jahat).

Kemudian, tak lama Adriyanto keluar, seorang pria berjas, membawa amplop, masuk ke dalam kantor Adrianus dan disapa olehnya.

Adrianus : Halo, Pak Sangadji. Apa kabar? Ada penawaran menarik apa untuk saya?

Sangadji : Hehehe…ini pak (mengambil isi amplop tersebut dan memberikan isinya kepada Adrianus), kan ada susidi BLT untuk masyarakat kecil nih. Kebetulan saya disuruh mengesahkan proposalnya. Nah, saya ingin menaikkan jumlah subsidinya. Jumlah yang kita naikkan itu nanti saya ambil dan saya bagi-bagi ke kolega saya, seperti biasa. Pak John, Pak Paul sudah join. Hehehe…bapak join nggak?

Adrianus : Hahaha..pasti join lah. Masak yang menguntungkan saya nggak ambil. Hehehe…

Scene Extra :

7 tahun kemudian, Adriyanto menjadi politisi. Adrianus, yang pada tahun-tahun sebelumnya telah terbukti korupsi, dipenjara seumur hidup dalam penjara Tipikor. Adriyanto, pergi mengunjunginya dalam penjara itu. Penjara itu berbeda dengan apa yang dibayangkan Adriyanto. Bukan ruangan sempit, malahan sebuah ruangan luas, dengan fasiloitas mewah seperti TV, sofa dan AC di dalamnya. Adriyanto menatap Adrianus yang sedang duduk di sofanya sambil membaca korannya. Adrianus melihatnya di luar.

Adrianus : Ah, Adriyanto, apa kabar? Hahaha…apa saya bilang? Korupsi saja. Enak kok. Ini saya dapat kamar hotel bintang lima di sini. Saya nggak perlu beli rumah jadinya. Saya berterima kasih kepada rakyat karena uang mereka yang membantu membangun rumah peristirahatan bagi saya ini. Saya salah mengira sejak awal. Ternyata mereka mengerti saya. Hahaha..(Tertawa jahat)

Adriyanto : Hingga saat ini, kaupun belum menyesal? (heran)

Adrianus : Ingat Adriyanto. Suatu saat kamu akan menyadari apa yang saya katakan itu benar. Korupsi itu enak. Egois tapi enak. Kebanyakan orang takut untuk melakukannya. Mereka mau, tetapi membiarkan peraturan menakuti mereka. Jadilah diri sendiri, jangan munafik.

Adriyanto : Dasar orang gila!(menatap Adrianus dengan dingin, sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Kemudian pergi menginggalkan Adrianus)

Adrianus : Hahahahahaha (tertawa jahat kembali) Ingat Adriyanto, apa yang saya katakan hari ini! Ingat!

Scene 4

Tiga bulan kemudian, mulailah muncul masalah untuk Adriyanto. Masyarakat pun mulai meragukan kebijakan. Menurut rakyat, kebijakannya, yaitu mengurangi subsidi BBM, dianggap kontroversial dan merugikan. Adriyanto, yang kini sedang duduk di kantornya, merasa stress dan depresi. Di hadapannya, Ia melihat serbuan berita yang menjelek-jelekkan kepemimpinannya.

Adriyanto : (memukul mejanya sambil melihat ke layar monitornya)

Resepsionis : (mengetuk pintu dan bersuara) Permisi, pak.

Adriyanto : Ya silakan masuk (menghela napas sejenak)

Novie : Haaaiiii! (Menyapa dengan tangan dilambaikan dan sumringah terpampang jelas di wajahnya)

Adriyanto : Halo sayang. (Menjawab dengan datar sambil melihat layar monitor)

Novie : Lihat nih aku bawain kamu makanan…(tiba-tiba kalimatnya terputus setelah melihat Adriyanto tidak memerhatikannya. Kemudian menghampiri Adriyanto dan melihat ke layar monitornya)

Novie : “Adriyanto penyiksa rakyat”, wah berani sekali mereka berbicara seperti itu. (kemudian berdecak)

Novie kemudian dengan sengaja mencabut kabel power supply Adriyanto, dan matilah komputernya.

Adriyanto : (penuh amarah) Kamu tuh apa-apaan sih!?

Novie : (tolak pinggang) Harusnya aku yang nanya begitu! (dengan penuh amarah juga) Sudah semalaman kamu tidak pulang. Aku sudah mencoba mengirimkan SMS, menelpon, bahkan mengirimkan e-mail. Tetapi, tidak ada respon.

Adriyanto : Ya, kamu tahu kan aku sibuk.

Novie : (berdecak) Kamu ingat tidak sih, salah satu syarat dan prasyarat waktu aku menikahi kamu dulu? Aku meminta keluarga didahulukan. Mana janjimu?? Semalaman anakmu menunggu, ingin memperlihatkan gambarnya kepadamu, tetapi kamu tidak pulang-pulang. (berbicara tanpa henti, mengeluarkan isi hati, kemudian berhenti sejenak) Bagaimana kalau kamu sakit? Kalau kamu sakit, bagaimana memimpin negara ini dengan benar. Me-manage diri sendiri sama dengan me-manage sebuah negara. Jika kamu tidak mengatur dirimu sendiri, bagaimana kamu dapat memimpin sebuah negara?

Adriyanto pun terdiam. Kagum dengan perkataan istrinya, sekaligus takut dengannya. Pada akhirnya, Ia duduk dan memakannya. Novie, menghampirinya dan duduk di sebelahnya.

Novie : (menunjuk mata Adriyanto) tuh kan, mata kamu berkantung! Ini pasti kamu kurang tidur, atau bahkan tidak tidur sama sekali. Coba cek badan kamu panas tidak? (memegang dahi Adriyanto) Wah, panas sekali. Hmm..habis ini kamu harus pulang. Secepatnya.

Adriyanto : Tapi sayang….(kalimatnya terpotong oleh Novie)

Novie : Tidak ada tapi-tapi. Kamu harus cepat pulang. Badanmu sudah sesakit ini. Jika kamu sakit lebih parah lagi, nanti aku yang capek. Sudah, kamu harus cepat pulang. Ayo, cepat habiskan makananmu, kita harus pulang secepatnya.

Adriyanto : Ya, sayang. (Menurut saja)

Scene 5

Adriyanto yang kini sedang beristirahat di rumah, tiba-tiba mendapat kunjungan tamu. Tamu itu adalah Sangadji, seorang koleganya di DPR/MPR.

Sangadji : Ah, Pak Adriyanto. Apa kabar? (dengan sumringah)

Adriyanto : Baik-baik saja. Ada apa bapak kemari?

Sangadji : Ah, ini pak. (sambil memberikan sebuah amplop) Saya, bersama Pak Denny dan Pak Ruli, telah bekerja sama untuk mendapatkan “Apel Malang” untuk proyek pembangunan gedung olahraga di Papua. Bapak ingin ikutan tidak?

Adriyanto : Apel Malang? (heran)

Sangadji : Rupiah pak. Kalau untuk Dollar, Apel Washington.

Adriyanto : Maksudnya kerja sama di sini itu apa? Saya berinvestasi begitu? (masih terheran)

Sangadji : Hahaha…bapak baru pertama kali di sini. Wajar belum tahu sistemnya. Saya akan berbicara terang-terangan saja ya pak. Kita akan korupsi?

Adriyanto : Korupsi?

Sangadji : Iya.

Keadaan terhening sejenak. Lalu Adriyanto menjawab.

Adriyanto : Oh, korupsi. Nggak deh. Saya tidak mau ikutan.

Sangadji : Bapak yakin? Ini bisa mendapatkan uang yang banyak lho..

Adriyanto : Tidak.

Sangadji : Apakah anda yakin?

Tiba-tiba Novie datang dan menghampiri mereka berdua, dan mengambil amplop yang ada di meja, dan kemudian merobeknya.

Novie : Suami saya tidak ingin. (berbicara dengan tegas), sekarang cepat pergi atau saya panggil polisi.

Sangadji : Hahahaha (tertawa jahat) sudah ada yang sok pahlawan lagi di negara ini. (kemudian berdiri dan beranjak ke pintu keluar). Bersiaplah pak. Sebentar lagi saya dan kolega-kolega saya akan segera menjatuhkan bapak. Jika bapak ingin berubah pikiran, mungkin bapak bisa menghubungi nomor ini (memberikan sebuah kartu  nama dan ditaruh di atas meja). Hahahahaha..selamat tinggal, semoga kita berjumpa lagi. Hahahahaha…(tertawa jahat lalu pergi dari kediaman Adriyanto)

Novie : Sudah sayang. (berusaha menenangkan Adriyanto) Paling-paling itu hanya omong kosong untuk menakut-nakuti kamu saja. Yuk, kita makan, rendang kesayanganmu sudah menunggu nih.

Adriyanto : (masih masygul dengan perkataan Sangadji tadi) Oke..

Scene 6

Benar saja perkataan Sangadji. Seminggu kemudian, Adriyanto diadukan ke KPK, dan diberikan sebuah bukti palsu bahwa Ia korupsi. Sampai 2 bulan kemudian, Adriyanto tidak memiliki bukti penyangkalan untuk menyangkal bukti palsu tersebut. Sangadji pun naik statusnya menjadi terdakwa.

Adriyanto, kini sedang ada dalam ruang istirahat di pengadilan, ditemani istri dan anaknya. Adriyanto, kini depresi dan bingung terhadap sesuatu yang harus dihadapinya.

Novie : (menepuk bahu Adriyanto) Sayang, kita berdoa saja kepada Allah ya. Pasti Allah akan memberikan jalan yang terbaik.

Adriyanto : Aku tidak bersalah sayang. Aku tidak bersalah. (Raut mukanya begitu sedih)

Novie : Sudah-sudah sayang. Lihat muka aku. (Adriyanto menoleh ke arahnya) Ingat, serahkan saja kepada Allah. Apapun yang terjadi, apaun yang kamu hadapi, serahkan semua kepadaNya, pasti itu jalan yang terbaik untuk kamu.

Adriyanto melihat wajah istrinya, ingin sekali tersenyum, bahkan tertawa. Seakan, di wajah istrinya itu ada sebuah kebahagiaan abadi. Namun, mengingat masalahnya itu, Adriyanto pun kembali sedih dan memalingkan wajahnya dari Novie. Tidak lama kemudian, seseorang datang dan menghampiri Adriyanto.

Orang itu : Pak masa reses sudah habis, sidang akan kembali dilanjutkan.

Masuklah Adriyanto dan Novie ke dalam ruang sidang, dan duduk di depan hakim. Istrinya, duduk di dekat kursi juri. Hakim pun memulai sidang.

Hakim : (mengetuk palu). Ya sidang dimulai lagi. Sesuai dengan pernyataan saudara Sangadji, dan bukti-bukti yang diberikan olehnya, terbukti anda telah melakukan tindak pidana korupsi. Jika tidak ada pembelaan, maka saudara Adriyanto dinyatakan bersalah.

Adriyanto : (terdiam dan terhening)

Pengacara yang dimiliki Adriyanto hanyalah pengacara yang disediakan pengadilan, bukan pengacara yang disewanya. Pengacara ini pun tidak dapat membantu karena Adriyanto tidak memberikan apapun kepadanya, sehingga pengacaranya tidak membelanya.

Hakim : (akan mengetuk palu)Dengan ini saya nyatakan, saudara Adriyanto, ber…(perkataannya terpotong oleh Adriyanto)

Adriyanto : (berdiri dan berbicara dengan lantang) Tunggu sebentar, pak Hakim! Saya ingin mengeluarkan kata-kata terakhir saya sebelum saya masuk ke dalam tahanan. Saya, Adriyanto, Mantan Pejabat komisi IX DPR, ingin mengungkapkan bahwa saya, adalah seseorang yang sangat mencintai negara saya. Saya, tidak tahu apa yang sudah saya lakukan, saya tidak ingat dan saya yakin bahwa saya tidak pernah melakukan tindak pidana dan tindak haram seperti korupsi. Saya begitu mencintai negara ini. Dari sabang sampai merauke. Dari luar hingga dalam. Saya besar di negara ini, saya tumbuh di negeri ini. Saya, merasa berhutang budi terhadap negara ini, maka dari itu saya ingin menjadi pejabat untuk membangun negara saya yang kini sedang tidak terbang setinggi dahulu. Saya mungkin, selama menjabat, telah membuat banyak kebijakan kontroversial. Ya memang, kebijakan ini merugikan khalayak banyak. Tapi, saya melakukannya demi masa depan negara ini kelak! Saya ingin masyarakat kita, negara kita menjadi lebih kuat ke depannya. Saya ingin negara ini memiliki modal yang dibutuhkannya untuk maju!

Keadaan pun hening sejenak, setelah suara Adriyanto yang membahana di ruang sidang.

Adriyanto : Apapun yang terjadi pada saya, saya siap menerimanya. Saya tidak akan lari, dan saya akan patuh terhadap takdir. Karena saya tahu, bahwa saya tidak bersalah, dan apa yang sudah saya lakukan sebelumnya adalah untuk Ibu pertiwi, Indonesia.

Lalu, Adriyanto, dibawa polisi menuju ke Penjara Tipikor. Di pintu keluar gedung pengadilan tersebut, Adriyanto dihampiri istrinya, dengan raut muka sedih. Matanya berkaca-kaca menahan tangis.

Novie : Berjaga-jagalah di sana, sayang. (Wajahnya begitu sedih, mau menangis tetapi ditahan)

Adriyanto : Ya sayang. Terima kasih kamu telah memberikan dukungan kepadaku selama ini. Aku akan selalu ingat kasih sayang yang kauberikan untukku.

Tidak lama kemudian, Adriyanto, dengan polisi, naik mobil tahanan, dan pergi bersama polisi. Kemudian pergi ke penjara.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s