Wayang sebagai Falsafah Hidup

Ini artikel keempat gua yang gua kirim ke media di kampus gua. Artikel ini tentang sebuah seminar wayang yang diadain di kampus gua, membahas tentang pentingnya wayang dalam membangun falsafah hidup. Enjoy!

IMAG0026

Selama ini, wayang umumnya hanya dikenal sebagai pertunjukan seni yang menghibur dan mengandung nilai estetika yang unik dan tinggi, terbukti wayang masuk dalam daftar Masterpiece of Oral and Intangible and Humanity yang dibuat oleh UNESCO pada tahun 2004 dan banyak pakar budaya barat menilainya sebagai the most complex and sophisticated theatrical form in the world. Namun, selain sebagai pertunjukan budaya, wayang juga adalah falsafah hidup.

Dalam sebuah Sarasehan yang dilaksanakan di Balairung Universitas Indonesia pada tanggal 4 April 2013, Drs. Solichin dari Senawangi, sebuah lembaga yang melakukan studi tentang wayang, menambahkan bahwa dalam wayang terdapat falsafah mencapai kasampurnane ngurip, atau kesempurnaan hidup. “Bandingkan dengan nilai-nilai barat yang bertujuan untuk memahami realitas dalam kehidupan, Wayang, sebagai perwakilan budaya timur, mengajarkan bagaimana untuk mencapai kesempurnaan dalam hidup”.  Prof. Dr. Slamet Suparno, Rektor Institut Seni Indonesia, yang juga hadir dalam sarasehan tersebut, menyampaikan bahwa untuk mencapai kesempurnaan hidup, dalam setiap cerita wayang mengandung pesan moral dan mengajarkan keutamaan. “Dalam setiap pakeliran wayang, penggambaran situasi oleh dalang dan perilaku tokoh wayang menyimpan nilai-nilai kehidupan, seperti kesabaran, bekerja keras, dan lain sebagainya.”, tuturnya. “Wayang mengajarkan kita tentang kosmos dan apa yang ada di luar itu.”

Bangsa Indonesia adalah bangsa yang telah kehilangan jati dirinya. Menurut Dr.Solichin, bangsa Indonesia telah terpengaruh oleh budaya-budaya barat. “Sekularisasi, materialisasi dan bahkan hedonisme dari budaya barat makin menggejala dalam kehidupan” , ujarnya.  “ Bangsa kita menjadi kering dari sentuhan rasa, menjadi jauh dari moral, sehingga banyak bertentangan dengan harkat dan martabat kemanusiaan”. Karsono H. Saputra, M.Hum, Koordinator Program Studi Jawa Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia, yang juga hadir dalam sarasehan tersebut, mengutarakan bahwa seharusnya bangsa ini belajar falsafah hidup dari wayang. “Politikus-politikus kita seharusnya menjadi seperti kepada Kresna, melakukan kebenaran. Zaman ini, saya melihat kebanyakan politikus-politikus kita cenderung ingin menjadi seperti Rahwana, menjadi serakah”, tuturnya. “Seharusnya kita banyak belajar dari Wayang”.

Mengenai perkembangan Wayang di Indonesia saat ini, Karsono mengungkapkan bahwa pengaruh Wayang di negara ini sudah semakin menipis. “Di zaman sekarang ini, orang-orang sudah sibuk dengan urusan kantor atau kesibukannya lainnya. Tidak menempatkan waktu untuk wayang. Wayang dianggap sebagai sesuatu yang membosankan”, ungkapnya. “Dahulu di zaman saya, banyak sekali orang yang menyenangi wayang, dan mau belajar dari wayang. Mereka belajar dari tokoh-tokoh wayang seperti Arjuna, lalu melakukan identifikasi terhadap tokoh wayang tersebut dan menerapkannya ke dalam kehidupan sehari-hari, mereka mencoba menjadi tokoh-tokoh wayang tersebut”. Ia juga menambahkan bahwa dahulu pertunjukan Wayang selalu ada di berbagai tempat dan hampir dilaksanakan secara rutin. “Kalau sekarang, saya tidak yakin sebulan sekali pun pertunjukan wayang ada. Di televise pun saya sudah jarang sekali melihatnya.”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s