Insiden Fukushima : Apa yang Terjadi?

Artikel ini gua buat dalam bentuk berita, dan sudah disajikan dalam portal berita suatu lembaga media. Artikel ini sumbernya gua dapet dari peneliti-peneliti Jepang, yang kebetulan hadir memberikan pendidikan tentang nuklir di BATAN (Badan Tenaga Nuklir Nasional) tanggal 7 yang lalu. Ada 2 artikel yang gua buat, yang satu terkait insiden Fukushima, yang satu lagi terkait sama apakah Indonesia mampu membuat nuklir atau tidak.

Kecelakaan Nuklir Di Fukushima

Rekator Nuklir Fukushima Daiichi yang rusak karena ledakan hidrogen karena gagalnya proses Cooling (sumber : JICC)

Rekator Nuklir Fukushima Daiichi yang rusak karena ledakan hidrogen karena gagalnya proses Cooling (sumber : JICC)

11 Maret pada 2 tahun yang lalu sebuah bencana besar di jepang baru saja terjadi. Gempa yang diikuti Tsunami meluluhlantakkan gedung, dan menghancurkan banyak fasilitas di kota-kota di Jepang. Belum lagi banyak yang meninggal dan hilang hingga sampai sekarang belum ditemukan, dan yang lebih parah lagi adalah meledaknya reaktor nuklir Fukushima Daiichi.  Meledaknya reaktor nuklir tersebut memunculkan peluruhan radioaktif dan mengalir ke luar reaktor, dan pada akhirnya radiasi dari materi radioaktif tersebar ke seluruh area Fukushima yang sangat berbahaya bagi manusia bila manusia menghirupnya.

Apa yang menyebabkan reaktor Fukushima meledak?

Proses Keamanan Pasif yang Gagal (sumber : JICC)

Proses Keamanan Pasif yang Gagal (sumber : JICC)

Kecelakaan nuklir di Fukushima memang disebabkan oleh gempa dan tsunami, namun, menurut Takehiko Mukaiyama, seorang peneliti JICC (Japan Atomic Industrial Forums-International Cooperation Center), kecelakaan ini bukan disebabkan karena bencana alam yang terjadi ketika itu saja. “Kecelakaan ini disebabkan karena kelalaian dari pengelola reaktor tersebut, TEPCo (Tokyo Electric Power Company) yang lalai dalam mengantisipasi kejadian seperti ini. Mereka tidak mempelajari kasus-kasus yang terjadi sebelumnya seperti di Three-Mile Island, dan Chernobyl”, ujarnya saat ditemui di gedung BATAN, Mampang, Jakarta Selatan (7/2). Menurutnya, kecelakaan itu terjadi karena adanya Station Black-out, atau hilangnya tenaga pada stasiun listrik yang digunakan, yang disebabkan karena kerusakan pada bagian turbin karena tsunami. Kehilangan tenaga ini menyebabkan proses sistem keamanan nuklir pasif, terutama pada proses pendinginan dan penampungan. “Kegagalan di proses pendinginan ini menyebabkan suhu meningkat pada inti dan akhirnya terjadi eksplosi hidrogen, dan meledaknya reaktor. Karena meledaknya reaktor ini, akhirnya proses penampungan gagal dan materi radioaktif pun menyebar keluar.”

Tidak hanya antisipasinya saja yang salah. Mukaiyama menambahkan bahwa membangun reaktor nuklir di daerah dekat lautan adalah sebuah “kesalahan besar”. “Jepang seperti yang kita ketahui adalah negara yang rawan akan tsunami karena Jepang berada di tengah-tengah Samudra Pasifik yang tidak stabil. Membangun reaktor di situ tentunya akan sangat berbahaya.”

Dampak Yang Ditimbulkan

Daerah yang terkena Radiasi Fukushima

Daerah yang terkena Radiasi Fukushima

            Hingga kini, pemerintah Jepang menonaktifkan 2/3 reaktor

nuklirnya (sebagian ada yang masih dalam inspeksi) setelah kejadian ini, khususnya di daerah yang ada di dekat lautan. Hal ini menyebabkan krisis energi di Jepang, terutama bagi perusahaan yang membutuhkan energi nuklir untuk tenaga yang lebih besar, dan pada akhirnya menyebabkan ekonomi Jepang jatuh karena impor minyak bumi dan batu bara untuk suplai energi. Ditambah, karena tenaga berkurang,  produksi yang semula memiliki tingkat pertumbuhan 35%, menurun menjadi 17%.

Tingkat Penyebaran Radiasi pertahunnya. Warna hijau menunjukkan radiasi kecil, Warna kuning radiasi sedang, dan Warna merha radiasi parah. (Sumber : JICC)

Tingkat Penyebaran Radiasi pertahunnya. Warna hijau menunjukkan radiasi kecil, Warna kuning radiasi sedang, dan Warna merha radiasi parah. (Sumber : JICC)

Tidak hanya ekonomi Jepang saja yang runtuh, tetapi kepercayaan masyarakat akan penggunaan energi nuklir juga ikut runtuh. Meskipun tidak ada yang meninggal karena kecelakaan tersebut, namun pada akhirnya banyak yang terkontaminasi dan terpaksa meninggalkan rumah mereka, khususnya di daerah sekitar Fukushima. Hingga kini pemerintah Jepang masih melakukan dekontaminasi terhadap lingkungan yang terkena radiasi nuklir Fukushima serta warganya yang terkena radiasi tersebut.

Gambar daerah nuklir yang masih dalam operasi di Jepang. Hijau, masih dalam operasi, Kuning, ditutup sementara karena inspeksi, dan Merah, ditutup permanen. (Sumber : JICC)

Gambar daerah nuklir yang masih dalam operasi di Jepang. Hijau, masih dalam operasi, Kuning, ditutup sementara karena inspeksi, dan Merah, ditutup permanen. (Sumber : JICC)

 

 

Komunikasi Yang Gagal

            Seharusnya tidak perlu ada korban yang terkena radiasi nuklir, jika evakuasi dilakukan dengan tepat. Shigeyuki Koide, seorang Jurnalis dan Editor dari Harian Yomiuri, menyatakan bahwa pemerintah tidak memberikan informasi kepada masyarakat tentang apa yang sedang terjadi. “Informasi dari NSTC (Nuclear Safety Technology Center) dan WAP (Weather Agency Protection) tidak diberikan kepada masyarakat sewaktu kejadian itu sedang terjadi. Perkembangannya serta estimasi risiko yang timbul pun juga tidak diberikan oleh pemerintah..”, katanya. Menurutnya, pemerintah baru memberikan informasi itu setelahnya. “Belum lagi, berita yang disampaikan tidak konsisten hingga menyebabkan masyarakat bingung.”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s