Anomali

Gua nggak tahu ini namanya, puisi, atau syair. Gua menyebutnya sebagai sebuah lirik. Ini gua atas kekecewaan gua dengan teman-teman seperjuangan gua di kampus. Apa yang terjadi? Silakan lihat dibawah ya..hehe

 

Kita berada di dalam tempat yang sama. Namun, dunia  yang begitu berbeda. Di duniaku, a adalah b, dan b adalah a. Aku memiliki kesamaan denganmu, tetapi itu bukan berarti aku tidak berbeda denganmu. Kau memilih ke bulan, dan mungkin aku memilih untuk menuju ke suatu semesta yang belum ditemukan.

Aku membagi diriku denganmu, tetapi kau tidak membaginya denganku. Aku mendalami dirimu, tetapi kau tidak mendalami aku. Kau berkata bahwa kau tidak ingin kehilangan aku, tetapi, tembok bisu itu mengatakan sebaliknya.

Aku memiliki pemahaman yang berbeda denganmu, tetapi kau mengucilkan aku. Aku ingin mencari yang lain, tetapi kau menganggap aku salah. Aku tidak masalah denganmu berbuat salah, tetapi, kita aku berbuat demikian, kau selalu mempermasalahkannya.

Kau menyebut dirimu manusia, tetapi tidak mengakui perbedaan. Aku memiliki keuntungan, dan kau memiliki kerugian. Tetapi, kau iri padaku, kemudian kau berusaha untuk mencari kelemahan pada diriku. Apakah kau masih menyebut dirimu berhati? Apa kau masih berani mengakuinya? Kau hanya ingin hidup berjalan sesuai keinginanmu, tetapi apakah keinginanmu menjadi sebuah teori definitif akan kehidupan ini?

Kau berkata kita akan berjalan bersama sampai akhir. Tetapi, ketika aku tersandung batu, kau tidak menolongku. Kau meninggalkanku dan berjalan terus ke depan. Apa arti kata ‘teman’, jika aku melihat dirimu? Aku menganggapmu itu, tetapi kau tidak.

Apa diriku ini buatmu? Aku selalu melakukan apa yang kau inginkan, tetapi tidak bisakah kau mengerti perasaanku sejenak? Kita menganggap diri kita sebagai teman, tetapi, kau telah menjadi benalu untukku. Aku tidak meminta imbalan, tetapi, apakah seseorang yang disebut teman adalah seseorang yang mengerti sesama temannya?

Kau meninggalkan aku, dan aku tidak pernah menemukan jejakmu, untuk kembali kepadamu. Kurasa, semua yang tersisa sekarang hanyalah sebuah kotak penyimpan kenangan, yang ada di dalam jiwa. Kau mungkin akan melupakanku,  tetapi, aku tidak akan pernah melupakannya. Mungkin aku akan marah, tetapi, aku tidak menutup peluang untuk kita kembali lagi. Aku akan selalu siap untuk berjalan bersama lagi denganmu, meski mungkin, kau tak akan pernah menginginkan itu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s