Filsafat Menurut Saya : Diskriminasi Gender

Saya sedang menonton sebuah acara berita di sebuah stasiun televisi, bersama ibu saya. Selagi asyik menontonnya, sebuah berita unik muncul. Seorang Siswi SMA berhasil menemukan sebuah tenaga listrik dengan menggunakkan sepatu. Saya tidak terlalu tertarik dengan berita itu, karena saya sudah sering melihat bangsa ini berkembang, dan menurut saya itu adalah hal yang luar biasa dan harus menjadi hal yang biasa untuk negara kita. Begitu melihat berita itu, Ibu saya langsung mengatakan “Tuh, dri! Anak SMA bisa bikin pembangkit listrik pake sepatu! Hebat, ya! Cewek lagi..”. Saya senang ada yang bisa mengapresiasikan karya bangsa ini, apalagi saya tahu orangnya ibu saya. Tapi, saya selalu bertanya-tanya mengapa ibu saya perlu menyelipkan kata “cewek” di kalimatnya. Memangnya kenapa kalau dia itu seorang cewek, alias perempuan? Apakah wanita tidak bisa membuat seperti itu? Apakah itu adalah hal yang tidak pantas dilakukan oleh seorang wanita? Apakah hal seperti itu sangat jarang terjadi? Mengapa? Begitu mendengar kalimat ibu saya itu, saya teringat juga dengan perkataan seorang guru dari suatu lembaga bimbingan belajar. Ia mengatakan “Di kampus saya, kampus fakultas teknik, wanita di sana itu sangat langka, maka kalau kita bertemu satu saja itu sudah membuat kita terkejut..”.

Tahu Raden Ajeng Kartini? Ya, kita selalu mengenalnya sebagai pahlawan emansipasi wanita. Tapi, apakah anda tahu apa yang Ia rasakan sewaktu memperjuangkan hak bagi kaum betina itu? Ketika saya membaca ceritanya, memang sungguh miris mengingat kenyataan yang dialaminya. Ia tidak dapat mengikuti sekolah sebagaimana anak lelaki lainnya, dan juga teman-temannya yang ada di Belanda. Coba saja tilik buku “Habis Gelap Terbitlah Terang”. Ada juga seorang wanita dari Cina bernama Qiu Jin. Sejak kecilnya, Ia selalu ingin mempelajari apa yang ingin dipelajari seorang lelaki, mulai dari kaligrafi, sejarah, hingga kung fu. Tetapi, beberapa anggota keluarganya menentang pikirannya itu karena dianggap wanita tidak pantas untuk hal seperti itu. Beruntung ayahnya membawanya ke sekolah. Belum lagi, wanita harus menikahi seorang lelaki yang dipilihkan oleh keluarganya. Apa wanita itu bukan manusia? Apa wanita itu tidak boleh bebas dan memilih jalan hidupnya?

Ada lagi juga di masyarakat kita. Ketika masyarakat kita menemukan seorang lelaki bermain boneka barbie, maka maysyarakat kita menganggap hal itu sebagai sesuatu yang tidak wajar. Begitu juga dengan seorang wanita. Ketika seorang wanita mendalami hal-hal yang berhubungan dengan teknik seperti membetulkan motor atau mobil, maka hal ini akan dianggap masyarakat kita “aneh”. Apakah ada definisi bahwa apa yang harus dilakukan oleh seorang lelaki itu apa, dan apa yang harus dilakukan oleh seorang wanita itu apa? Yang ada hanya traisi masyarakat yang seperti itu. Sesuatu yang dianggap oleh banyak orang, diikuti oleh orang lain dan dianggap sebagai hal yang benar. Kenyataan bukanlah sebuah kebenaran! Saya menemukan di dalam buku SMP saya, pada pelajaran Kewarganegaraan. Soerang filsuf, bernama Plato, mengatakan “Wanita hanya memiliki tempat di tempat tidur saja…”. Ketika membaca kalimat itu, menurut saya Plato gila! memangnya, mengapa seorang wanita harus di tempat tidur? Dan jika melihat dari konteks kalimat tersebut, apakah wanita hanya pantas menjadi pemuas gairah bagi seorang lelaki.

Saya bukan seorang wanita, tetapi saya tahu bahwa apa yang saya temukan itu salah. Ketika Tuhan menciptakan kita dan Bumi ini, apakah Tuhan memilih-milih kita? Apakah Tuhan membagi dunia yang luas ini menjadi mana yang milik lelaki dan mana yang milik perempuan? Saya rasa tidak. Lelaki dan wanita hanya dibedakan menurut kelaminnya saja. Sedangkan sisanya, kita sama. Kita adalah manusia. Kita memiliki indera, kita memiliki perasaan, dan seharusnya memiliki hak-hak yang sama. Seorang berkulit hitam dianggap sebagai ‘budak’ oleh bangsa kulit putih. Lalu, apa bedanya jika seorang wanita diperlakukan seperti kisah di atas oleh laki-laki? Bukankah itu sama saja?

Mungkin ada di antara anda tidak memahami maksud saya, tetapi saya ingin memberikan penalaran kepada anda dengan pertanyaan berikut. Ketika anda ingin melakukan hal yang anda sukai, anda dilarang, dan anda dianggap sebagai orang abnormal. Apakah anda mau? Ketika anda tidak ingin melakukan hal yang tidak anda sukai, tetapi anda dipaksa untuk melakukan hal itu, dan jika tidak anda juga akan dikucilkan. Apakah anda mau seperti itu? Bukankah itu tidak adil?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s