17/21. Renungan : Apa sih yang sebenarnya Allah minta dari kita?

Pada suatu kali, pada hari Sabat  , Yesus berjalan di ladang gandum, dan sementara berjalan murid-murid-Nya memetik bulir gandum. Maka kata orang-orang Farisi kepada-Nya: “Lihat! Mengapa mereka berbuat sesuatu yang tidak diperbolehkan pada hari Sabat? l ”  Jawab-Nya kepada mereka: “Belum pernahkah kamu baca apa yang dilakukan Daud, ketika ia dan mereka yang mengikutinya kekurangan dan kelaparan, bagaimana ia masuk ke dalam Rumah Allah waktu Abyatar menjabat sebagai Imam Besar   lalu makan roti sajian itu–yang tidak boleh dimakan   kecuali oleh imam-imam–dan memberinya juga kepada pengikut-pengikutnya?”  Lalu kata Yesus kepada mereka: “Hari Sabat diadakan untuk manusia  dan bukan manusia untuk hari Sabat, jadi Anak Manusia r  adalah juga Tuhan atas hari Sabat.” – Markus 2 : 23-28

Apakah Tuhan menginginkan kita untuk berpuasa? Apakah Tuhan ingin kita melakukan devosi? Ya, Tuhan ingin kita melakukan itu. Tetapi, apakah kita perlu memaksa untuk melakukan itu, dan apakah itu sebuah kewajiban?

Hari ini, Yesus memberi petunjuk buat kita bahwa Allah menginginkan sesuatu yang ikhlas dari manusia. Tidak seperti yang dilakukan oleh para orang farisi, dimana mereka melakukan puasa semata untuk tradisi, namun tidak mengerti maknanya. Sedangkan, para murid, mereka tidak berpuasa, namun, Yesus mengatakan bahwa bagi Allah yang terpenting adalah keikhlasan manusia. Hari sabat adalah hari dimana manusia memberikan sesuatu kepada Allah dengan sepenuh hati. Hari sabat tidak harus pada hari tertentu yang ditentukan. Kapan kita siap memberikan sesuatu kepada Allah, itulah hari sabat kita.

Hari sabat juga sebenarnya dapat diartikan sebagai ‘waktu untuk Allah’. Tidak harus dalam konteks hari, tetapi dapat dalam konteks menit, ataupun detik. Allah menginginkan kita untuk memberikan kita sedikit waktunya untuknya, dan Allah tidak ingin kita melupakan waktu itu. Ingat bahwa Allah adalah pencemburu? Ya, Allah kita memang posesif. Tapi, Allah tahu karena kita tidak mungkin bertahan jika kita tidak memulai berkomunikasi dengannya. Allah ingin kita berdoa kepadaNya, berbicara kepadaNya. Tidak peduli berapapun lamaNya, yang penting, anda berbicara kepadaNya layaknya seorang teman.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s