14/21. Research : Mengapa Jakarta Banjir Terus?

Bundaran HI terkena banjir (merdeka.com)

Bundaran HI terkena banjir (merdeka.com)

Mengapa Jakarta banjir? Bagi sebagian besar orang, ini karena orang-orang suka membuang sampah sembarangan. Bagi sebagian orang lainnya, ini karena adanya pengiriman air dari Bogor.  Sebelum kita membuat kesimpulan, mari kita coba membaca tulisan berikut.

Pertama, Jakarta adalah sebuah daerah yang relatif rendah dibandingkan wilayah dataran rendah lainnya. Ia memiliki ketinggian 0-75 m, dimana ketinggian dataran rendah umumnya 200 m, dan Jakarta juga terdiri atas rawa-rawa. Banyak yang bilang daerah Jakarta rendah, dan ini memang benar. Ini menyebabkan Jakarta mudah sekali banjir karena luapan air. Belum lagi, Jakarta terdiri atas 29 sungai. Yang sudah pasti jika ada hujan yang deras, air-air dari sungai akan meluap ke Jakarta. Tetapi, dari semua sungai yang ada, yang paling menjadi pokok masalah adalah Sungai Ciliwung.

Mengapa Sungai Ciliwung merupakan pokok permasalahan? Karena seharusnya, di Jakarta tidak perlu terjadi banjir karena adanya sungai ini. Tetapi, yang menjadi kenyataan malah banjir. Sungai ini luas dan panjang, mengalir dari Jakarta sampai Bogor. Sungai ini bisa menjadi kanal alami untuk aliran air hujan. Lantas, mengapa banjir? Karena pemakaian lahan tersebut yang salah. Masyarakat yang tinggal di daerah sekitar DAS (Daerah Aliran Sungai) Ciliwung, tidak memanfaatkan sungai ciliwung dengan baik. Yang menjadi masalah utama bukanlah rumahnya, tetapi pembuangan limbah oleh masyarakat di sana. Mereka membuang sampah di sungai, dan tentunya, akan membuat dangkal dasar sungai (pengendapan dan penimbunan material sampah di tanah dasar sungai, proses ini disebut sedimentasi tanah), karena menumpuknya sampah di dasar sungai.

Kedua, Tata pengelolaan kota yang salah. Banjir di Jakarta tidak hanya disebabkan Sungai Ciliwung saja, tetapi karena pembangunan rumah-rumah tidak memiliki daerah resapan air yang baik, seperti aliran air ke bawah tanah. Ada selokan di daerah perumahan tersebut, namun, selokan tersebut tidak dibangun dengan baik, atau tidak dimanfaatkan dengan baik, seperti misalnya digunakan untuk membuang sampah.

Pemerintah, sebagai orang yang dianggap paling bertanggung jawab atas masalah ini, sebenarnya telah menyiapkan berbagai macam solusi. Pemerintah Belanda, pada tahun 1619 sudah melakukan pengerukan sungai untuk mengatasi masalah ini, dan membentuk sungai-sungai menjadi seperti kanal di Belanda. Tahun 1920, pemerintah Belanda membuka pintu air manggarai, yang memiliki rute dari dari Ciliwung sampai Pluit. Pemerintah Indonesia sudah membentuk kanal banjir barat, yang memiliki rute dari Tanah Abang sampai Pluit, untuk menampung air dari bagian barat dan menghalangi air mencapai pemukiman penduduk. Juga kanal banjir timur, dari Kali Cililitan sampai Jati Kramat, untuk menjaga pemukiman, kawasan industri dan pergudangan agar tidak tergenang air. Tahun lalu, pemerintah sudah menerapkan Jakarta Emergency Dredging Initiative, atau pengerukan sungai darurat pada sungai-sungai yang ada di Jakarta.

Namun sayang, pemerintah belum melakukan pengelolaan yang baik terhadap daerah DAS. Guru Besar Konservasi Tanah dan Air di Institut Pertanian Bogor Prof Dr Ir Naik Sinukaban, berpendapat bila banjir di Jakarta disebabkan penggunaan lahan di kawasan DAS (daerah aliran sungai) Ciliwung. Menurutnya, penggunaan lahan tidak sesuai dengan peraturan konservasi tanah. “Jadi, koefisien muka air hampir di semua DAS yang masuk ke Jakarta itu tinggi. Karena penggunaan lahan untuk pengelolaan DAS sudah sangat buruk, katanya. Ia juga menambahkan kalau pemerintah kurang memperhatikan daerah DAS dan lebih memperhatikan perbaikan saluran drainase, normalisasi sungai lokal dan saluran mempercepat aliran ke laut.

Langkah Pemerintah untuk memberikan langkah siaga ketika banjir itu datang ke ibukota sejauh ini sudah dilakukan. Misalnya dengan pengiriman pasukan ABRI dan SAR, mengadakan bantuan evakuasi, dan pemberian bahan makan. Pemerintah juga mematikan listrik ketika banjir datang ke kota untuk mencegah kebakaran.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s