14/21. Life & Renungan : Kejujuran

“Orang yang hidup dalam kebenaran, yang berbicara dengan jujur, yang menolak untung hasil pemerasan, yang mengebaskan tangannya, supaya jangan menerima suap, yang menutup telinganya, supaya jangan mendengarkan rencana penumpahan darah, yang menutup matanya, supaya jangan melihat kejahatan, dialah seperti orang yang tinggal aman di tempat-tempat tinggi, bentengnya ialah kubu di atas bukit batu; rotinya disediakan air minumnya terjamin.” – Yesaya 33:15-16

Akhir-akhir ini korupsi sedang merajalela di negara kita. Jika dipikir-pikir korupsi memang sangat menguntungkan. Kita melebihkan harga yang seharusnya, dan kita dapat keuntungan dari yang seharusnya. Lalu, uangnya kita pakai untuk shopping, atau jalan-jalan keliling dunia. Sungguh nikmat. Setiap orang pasti ingin korupsi. Akan tetapi, kita melihat masih ada di zaman kita yang tidak korupsi, bahkan masih ingin bekerja secara halal, alias bekerja keras. Mengapa? Ada dua alasan sederhana.

Yang pertama, karma. Seseorang ingin korupsi, tetapi tidak ingin di-korupsi. Maka dari itu, mereka tidak ingin korupsi karena jika mereka korupsi, maka mereka akan dikorupsi juga. Jika uang ada dicuri, anda tidak mau bukan? Nah, seperti itulah kira-kira. Yang kedua, integritas. Setiap orang ingin bekerja dengan usahanya sendiri, bukan dengan cara yang curang dan tidak adil. Setiap orang ingin merasakan susahnya dan ingin bekerja dengan jujur, tidak ingin membohongi siapapun.

Apa sih untungnya jujur? Jika dipikir-pikir, jujur itu menyulitkan. Kalau ulangan saya belajar keras  otak saya lelah. lebih baik menyontek. Cepat dan singkat. Kalau saya hanya berusaha mendapatkan gaji, saya tidak untung. Bagaimana kalau saya mengambil ‘sedikit’ mencuri? Lebih mudah dan untuk tidak jujur bukan? Tetapi, ketika anda tidak jujur, sebenarnya menyulitkan lagi. Ketika anda menyontek, anda tidak bertambah pintar. Ketika anda mencuri, anda akan dihukum pengadilan.

Tentunya, jika tidak jujur hanya ada hukuman, seseorang tidak akan takut untuk tidak jujur. Tetapi, dengan tidak jujur, sebenarnya kita telah membohongi diri sendiri. Kita mengatakan kita cerdas, padahal tidak. Kita mengatakan kita kaya, padahal tidak. Itu artinya kita telah menolak diri kita sendiri, dan tidak ingin menjadi diri kita sendiri, tidak apa adanya. Kalau begitu buat apa kita hidup? Nah, inilah alasan paling utama yang menjadi alasan seharusnya seseorang harus jujur. Belum lagi, jika tidak jujur, kita akan selalu berusaha menutupi kebohongan kita dengan berbagai cara. Yang dimana, kebohongan itu akan selalu membawa kebohongan lainnya, yang pada akhirnya akan menyulitkan anda dan menjatuhkan anda. Bayangkan saja seorang penjahat, dimana Ia selalu berbohong pada polisi agar tidak ditangkap. Namun, kenyataan yang didapat oleh polisi berbeda dengan apa yang diungkapkan si penjahat, dan akhirnya kedok si penjahat terbuka dan Ia pun tertangkap. Tidak ada kebohongan yang akan tertutupi dan suatu saat akan ditangkap.

Lebih parahnya lagi, ketika tidak jujur, kita akan dihukum Allah. Ingat kisah Ananias dan Safira, dimana mereka menipu masyarakat dengam mengatakan bahwa kuasa yang melakukan berasal dari diri mereka sendiri? Bukan karena Roh Kudus? Allah mencabut nyawa mereka. Allah sangat tidak menyukai ketidakjujuran, dan ketidak jujuran itu adalah salah satu dosa pertama kita bersama dengan iri hati. Adam dan Hawa menipu Allah ketika mereka mengatakan mereka tidak memakan buah pengetahuan baik dan jahat. Yang kahirnya membawa mereka pada hukuman diusir dari taman itu. Allah tidak menyukai orang yang tidak jujur.

Dengan jujur, seseorang akan mendapatkan apa yang harus Ia dapatkan. Misalkan, seorang miskin yang bekerja keras untuk menjadi kaya. Ia mungkin akan mendapat kesulitan di awal, tetapi, kesulitan itu menjadi pengalaman ke depan untuknya. Pengalaman itulah menjadi hadiah untuk kejujurannya. Belum lagi, jika seseorang itu jujur, Ia akan dipercaya banyak orang. Orang akan selalu mencarinya. DItambah lagi, pertolongan Tuhan akan selalu menantinnya. Nih ayatnya :

“Ia menyediakan pertolongan bagi orang yang jujur, menjadi perisai bagi orang yang tidak bercela lakunya, sambil menjaga jalan keadilan, dan memelihara jalan orang-orang-Nya yang setia.” – Amsal 2 : 7-8

Enak kan menjadi jujur itu? Mengapa tidak? Memang terkadang terasa sulit, tetapi tidak ada salahnya bila anda selalu jujur karena jujur itu mendapat banyak rezeki dan dukungan, terutama dari Allah. Belum lagi, dengan menjadi jujur, anda sudah menjadi diri anda sendiri.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s