12/21. Renungan : Siapa yang Merendah di hadapan Allah, dialah yang masuk surga.

Tetapi pemungut cukai itu berdiri jauh-jauh, bahkan ia tidak berani menengadah ke langit, melainkan ia memukul diri dan berkata: Ya Allah, kasihanilah aku orang berdosa ini.  Aku berkata kepadamu: Orang ini pulang ke rumahnya sebagai orang yang dibenarkan Allah dan orang lain itu tidak. Sebab barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan.”-Lukas 18:13-14

Yesus memberikan perumpamaan ini kepada kita untuk menunjukkan bahwa kita harus mengandalkan Allah setiap saat dalam kehidupan kita. Kita harus merendah di hadapan Allah. Merendah disini bukan berarti kita adalah bawahan-Nya. Kita adalah murid-Nya dan hamba-Nya. kita adalah orang yang mau belajar dan mengerti Allah. Orang farisi pada masa itu, adalah orang yang menganggap mereka mengerti Allah. Tetapi, apa yang mereka lakukan adalah membaca buku (kitab suci) tetapi tidak memaknai dan menerapkan dalam kehidupannya. Mereka menganggap begitu, dan itu bisa dilihat dari doa mereka. Betapa sombongnya mereka dengan mengatakan mereka suci.

“Orang Farisi itu berdiri dan berdoa dalam hatinya begini: Ya Allah, aku mengucap syukur kepada-Mu, karena aku tidak sama seperti semua orang lain, bukan perampok, bukan orang lalim, bukan pezinah dan bukan juga seperti pemungut cukai ini, aku berpuasa dua kali seminggu, aku memberikan sepersepuluh dari segala penghasilanku.”-Lukas 18:11-12

Doa orang farisi itu berarti secara tidak langsung mengatakan bahwa dialah Allah. Padahal tidak menutup kemungkinan suatu saat bahwa orang farisi itu mungkin saja menjadi penjahat. Pernah tidak kita melihat seseorang yang terlihat baik ternyata sebenarnya punya maksud buruk? Pernah tidak kita melihat seseorang yang semulanya baik tetapi ternyata menjadi jahat? Contoh saja Anakin Skywalker di film Star Wars. Awalnya, Ia adalah seorang anak polos yang menginginkan kebebasan dan kebaikan. Ia menganggap dirinya paling hebat. Tapi, pada kenyataannya, Ia akhirnya menjadi pemimpin yang jahat bernama Darth Vader, meskipun pada akhirnya Ia menyesali kesalahannya.  Cerita ini pun juga ada di alkitab. Dimana Petrus menyangkal Yesus sebanyak 3x, yang sebelumnya Petrus berjanji tidak akan menyangkal Yesus.  Tuhan akan selalu memberikan cobaan bagi orang yang sombong. Cobaan ini bukan kesengajaan Allah, tetapi cobaan ini adalah tanda Tuhan tahu kelemahan kita. Itu sebabnya Tuhan menguji kita.

Lihatlah doa si pemungut cukai. Ia berdoa dengan sepenuh hatinya, dan mengatakan “kasihanilah aku”. Ini adalah lambang bahwa manusia memerlukan Allah dalam kehidupan mereka. Kebenarannya, manusia memerlukan Allah. Tetapi, kenyataannya, manusia masih hidup melalui jalan-jalan dunia. Lucu bukan? Kita manusia, memiliki kelemahan. Jika kita mengandalkan apa yang dibuat manusia, dan pada manusia saja, tentunya kita bukannya menjadi sempurna, malah menjadi semakin lemah. Kelemahan di sini adalah manusia dapat jatuh ke dalam dosa. Bayangkan ketika kita bersama Allah. Allah itu pencipta kita, dan Ia begitu sempurna, tidak ada yang bisa mengalahkannya di dunia ini. Dimulai dariNya dan diakhiri olehNya, Alpha dan Omega. Dengan mendekatkan kepada Allah, kita pun akan terbebas dari dosa, dan kita pun mengikuti jalanNya. Lebih dari itu, Allah mengasihi kita dan akan menjaga kita, dimanapun dan kapanpun, tidak seperti manusia. Itulah sebabnya mengapa mereka yang mengikuti Allah masuk surga, karena mereka terbebas dari dosa dan mengerti kasih Allah.

Tuhan mencari orang yang mau memberikan dedikasinya kepada Allah. Itulah artinya merendah. Tuhan tidak mencari yang sempurna, karena tidak ada yang sempurna di dunia ini. Yesus pernah mengatakan bahwa kedatanganNya di dunia ini bukan mencari orang yang ‘sehat’, tetapi orang yang ‘sakit’. Kita semua sakit, artinya, kita semua berdosa. Seharusnya, kita datang kepada Allah, bukan mencari jalan lain. Itulah yang dilanggar oleh orang Farisi, mereka tidak mengakui bahwa mereka berdosa. Mereka sombong dihadapan Allah.

“Jika kamu tidak bertobat dan menjadi seperti anak kecil ini, kamu tidak dapat masuk ke dalam Kerajaan Surga.Barangsiapa merendahkan diri dan menjadi seperti anak kecil ini, dialah yang terbesar dalam Kerajaan Surga”-Matius 18:3-4

Ayat di atas memperkuat parabel dari Yesus. Menjadi anak kecil bukan berarti kita berlaku seperti anak kecil, tetapi memiliki hati semurni anak kecil. Apa yang murni dari seorang anak kecil? Anak kecil tidak tahu apapun yang ada di dunia ini. Ia sangat polos. Ia begitu ceria dan menerima apapun yang terjadi, menerima apa adanya. Mereka tidak tahu apa-apa dan mengikuti apa kata orang tua-Nya. Itulah yang Allah inginkan, sikap kerendahan hati, dan mau taat pada Allah. Allah adalah ‘orang tua’ kita. Sebagai anak yang berbakti, kita harus hormat dan taat pada Allah. Orang tua yang baik adalah orang tua yang tidak akan memberikan jalan yang buruk pada anakNya, begitu juga Allah. Seorang bayi, jika orang tuanya baik, maka bayi itu akan senang ditimang orang tuanya dan tidak akan mau lepas dari orang tuanya, karena Ia tahu bahwa orang yang menimangnya itu baik. Seharusnya manusia seperti itu. Ketika tahu Tuhan itu baik, maka mereka tidak akan mau lepas dari timanganNya.

Terakhir, saya ingin menutup dengan perkataan dari Yesus :

Berjaga-jagalah dan berdoalah, supaya kamu jauh dari pencobaan”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s