8/21. Actual & Research : Deep Tunnel Jakarta

Rancangan Terowongan Multifungsi (Kompas 4 Januari 2012)

Rancangan Terowongan Multifungsi (Kompas 4 Januari 2012)

Atas dan Tengah : Untuk saluran transportasi. Bawah : Saluran Air (Kompas 4 Januari 2012)

Atas dan Tengah : Untuk saluran transportasi. Bawah : Saluran Air
(Kompas 4 Januari 2012)

Baru-baru ini, Gubernur Jakarta, Joko Widodo, berencana untuk membangun sebuah terowongan bawah tanah, atau yang disebut Deep Tunnel, di kotanya. Proyek yang memakan dana 16 triliun dan memiliki panjang 19 kilometer ini direncanakan untuk memberantas kemacetan dan banjir, dan juga untuk memberikan kenyamanan lainnya.

Terowongan ini sebenarnya mengikuti desain terowongan di Malaysia yang bernama Smart Tunnel. Hanya saja bedanya pemerintah memakai batuan beku untuk fondasi agar lebih kokoh daripada lapisan lumpur dan pasir seperti yang dipakai di Malaysia, karena dapat menyebabkan ketidakstabilan tanah, yang disebabkan oleh amblesan yang akan berpengaruh pada pembangunan deep tunnel.

Terowongan ini memiliki jalur dari Cawang hingga Waduk Pluit. Terowongan ini disebut juga sebagai terowongan multifungsi karena :

1. Terowongan dapat digunakan untuk saluran transportasi dan air sekaligus. Pada jalur Cawang-Tomang, sepanjang 10 km digunakan untuk fungsi yang demikian (lihat  gambar di atas), sedangkan 9 km sisanya, dari Tomang hingga Pluit, digunakan untuk mengalirkan air ke Waduk Pluit.  Terowongan ini digunakan penuh untuk saluran air ketika musim hujan, dimana air mengalir dengan debit yang tinggi. Saluran atas dan tengah akan digunakan sebagai jalur air, yang sebelumnya untuk transportasi. Penutupan saluran itu tergantung intensitas hujan tersebut, misalkan saja saluran tengah akan ditutup jika hujan berintensitas sedang, sedangkan seluruh saluran akan ditutup jika hujan berintensitas tinggi. Fleksibilitas terhadap curah hujan.

2. Terowongan ini juga digunakan untuk jalur kabel telekomunikasi dan listrik.

Firdaus Ali, seorang peneliti pada program studi Teknik Lingkungan UI, juga menambahkan satu fungsi penting pada Deep Tunnel.  Yaitu adanya pemanfaatan air di terowongan untuk masyarakat. Namun sejauh ini belum ada kabar mengenai apakah fungsi ini akan digunakan atau tidak.

Pembuatan Deep Tunnel di Jakarta belum disahkan oleh hukum, dan pembuatan deep tunnel ini juga memperoleh kontradiksi dari banyak ahli. Delinom, dari LIPI mengatakan bahwa untuk mencegah banjir sebaiknya dikembalikan kembali fungsi area parkir air di Sunter. Selain itu, Nirwono, seorang pengamat perkotaan, mengatakan “Perlu diingat, deep tunnel itu tidak untuk mengurangi banjir, tapi untuk mengurangi debit air puncak saat Ciliwung sedang tinggi”, yang berarti Deep Tunnel adalah untuk saluran drainase. Nirwono juga menambahkan jokowi seharusnya fokus pada pembangunan daerah drainase, waduk dan situ ketimbang deep tunnel yang belum memiliki struktur hukum jelas.  Dari pemerintah DKI Jakarta sendiri, juga mendapat tentangan. Wakil Ketua DPRD DKI Triwisaksana mengatakan, megaproyek deep tunnel merupakan proyek dadakan. “Mau Pak Jokowi bilang proyek deep tunnel bukan hasil dari wangsit gorong-gorong, ya, tapi tetap saja, seharusnya dalam menentukan proyek itu harus dengan strategic planning (rencana strategis) yang jelas.” Proyek Jokowi ini tidak sesuai dengan Rancangan Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) 2013-2017, dan Ia menambahkan bahwa tidak bisa sembarangan dalam merencanakan sebuah proyek besar dalam RPJMD.

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s