7/21. Research : Tentang Plagiarisme

Arsip ini gua buat waktu ada tugas dari universitas gua. Sorry baru di-publish sekarang..soalnya ada kendala internet kemarin.

Akhir-akhir ini, mendapatkan berbagai macam media (visual, audio atau pun kinestetis), tidaklah sulit. Sebagai contoh, adalah ketika mendapatkan album musik yang kita sukai. Dari awal sampai akhir abad ke-20, kita mendapatkan musik dengan cara membeli di toko musik terlebih dahulu, dan itu berwujud CD, cassette, EP, LP, dll, harganya juga lumayan mahal. Sekarang, kita bisa membeli dan mengunduhnya di internet dengan harga yang terjangkau pula. Contoh seperti yang dilakukan band The Rolling Stones dalam menjual albumnya.

Tampilan Penjualan CD Box Set The Rolling Stones di websitenya (store.universal-music.co.uk/the-rolling-stones).


Tampilan Penjualan CD Box Set The Rolling Stones di websitenya (store.universal-music.co.uk/the-rolling-stones).

Dengan semuanya yang serba instan itu, ternyata membuka jalan bagi mereka yang punya pikiran-pikiran jahat (sengaja atau tidak disengaja) untuk melakukan apa yang disebut dengan Plagiarisme. Contoh simpelnya adalah penjualan musik secara ‘gratis’ dan illegal yang ada di beberapa website penyimpan file yang ada di internet. Jadi, lagu-lagu yang sudah diproduksi oleh para musisi dengan susah payah, disebarkan orang tidak bertanggung jawab di website penyimpan file tadi tanpa izin dan secara gratis.

Tampilan website dari 4shared.com

Tampilan website dari 4shared.com

Secara singkat, Plagiarisme adalah pencurian. Tetapi, apakah arti sebenarnya?

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, Plagiarisme adalah penjiplakan atau pengambilan karangan, pendapat, dan sebagainya dari orang lain dan menjadikannya seolah karangan dan pendapat sendiri. Plagiarisme atau biasa disebut plagiat, dapat dianggap sebagai tindak pidana karena mencuri hak cipta orang lain.

Sedangkan menurut Drs. R. Yugo Kartono Isal M.sc., Plagiarisme adalah menggunakkan kata-kata atau ide orang lain tanpa persetujuan dari orang tersebut.

Tipe-tipe plagiarisme :

Menurut Zul Afdal dari Kompas, ada 5 tipe plagiarisme yang dirincikan sebagai berikut :

  1. Copy & Paste adalah Plagiarisme. Setiap kali kita akan mengangkat/mengutip sebuah anak kalimat atau paragrap utuh dari sumber, maka kita harus menggunakan tanda kutipan dan memberikan referensi sumber.
  2. Mengganti dengan bahasa sendiri adalah Plagiarisme. Jika kita mengambil sebuah kalimat dari sumber dan melakukan perubahan beberapa kata atas kalimat itu, hal ini masih dikatakan plagiarisme. Jadi jika kita ingin mengutip sebuah kalimat, maka kita harus meletakkannya dalam tanda kutip dan mengutip penulis dan dari mana artikel itu didapatkan. Tapi kebanyakan orang mengutip artikel, tanpa menyertakan sumber utama artikel. Mengutip harus dilakukan apabila ada hubungan manfaat antara kutipan kata ini dengan kalimat yang kita tulis, terutama manfaat ini terasa ketika dibaca berulang-ulang. Dalam banyak kasus, untuk menghindari pengutipan semacam ini, lebih baik kita mengutip langsung dari sumber-sumber asli. Hal ini adalah pilihan yang lebih baik.
  3. Mengikuti gaya penalaran kutipan adalah Plagiarisme. Ketika kita mengikuti sebuah sumber kalimat demi kalimat atau paragraf demi paragraf, itu adalah tindakan plagiarisme, meskipun tak satu pun dari kalimat kita yang persis sama seperti yang ada di artikel atau sumber, bahkan urutan yang berneda juga. Jadi dengan demikian, dalam kasus ini kita sudah menyalin gaya penalaran penulis.
  4. Penulisan Metafora adalah Plagiarisme. Penulisan metafora biasanya digunakan baik untuk membuat lebih jelas ide atau memberikan pembaca sebuah analogi yang menyentuh indera atau emosi lebih baik, dengan adanya gambaran yang jelas dari objek atau proses Metafora itu sendiri. Kemudian juga mengikuti bagian penting dari gaya kreatif si penulis tersebut. Jika kita tidak bisa membuat kalimat sebagus metafora si penulis (sumber), sebaiknya kita datang dengan penulisan metafora si penulis untuk dapat menggambarkan ide penting yang ada pada tulisan, oleh karena itu apabila ingin berlaku demikian, kita harus mencantumkan secara penuh kredit penulis untuk sumber itu.
  5. Mengikuti Ide penulis adalah Plagiarisme. Jika kita menulis sebuah artikel dengan mengikuti sumber dalam mengungkapkan ide kreatif atau menyarankan solusi untuk suatu masalah pembaca, maka ide atau solusi harus jelas dikaitkan dengan penulis sebenarnya. Banyak mahasiswa yang tampaknya kesulitan untuk membedakan mana yang kalimat gagasan (ide) dan / atau solusi dari informasi yang disajikan penulis . Gagasan informasi umum adalah setiap ide atau solusi mengenai sesuatu yang orang di lapangan menerima sebagai pengetahuan umum dan meberikan makna tersendiri bagi mereka. Namun, ide baru tentang bagaimana untuk mencari solusi dari informasi itu perlu dikaitkan dengan penulis sebenarnya sebagai literatur.

Dampak Plagiarisme tentunya merugikan. Apa saja dampak dari plagiarisme tersebut?

  1. Menurunnya kreativitas yang disusul dengan menurunnya tingkat produktivitas.
  2. Membuat dosa, karena berbohong (secara religius).
  3. Menurunkan kepercayaan diri sendiri dan orang lain.
  4. Mengurangi kepandaian otak dan mengurangi nilai mental.
  5. Merugikan pembuat karena mereka yang membuat, tetapi mereka tidak mendapatkan keuntungan.
  6. Dalam Negara, akan menurunkan nilai ekonomi dan hukum jika ketahuan.
  7. Masuk penjara, atau mendapatkan berbagai macam sanksi bila ketahuan.

Jelas plagiarisme itu merugikan berbagai macam pihak. Namun, mengapa plagiarisme itu terjadi? Drs. R. Yugo Kartono Isal M.sc., merangkum alasan-alasannya :

  1. Ignorance / Ketidaktahuan

Dimana sang pelaku tidak tahu-menahu tentang apa itu plagiarisme, dan sang pelaku sudah melakukan plagiarisme tersebut.

  1. Tertekan atau takut

Sang pelaku mungkin sedang ditekan atau takut akan suatu situasi, misalnya takut salah,  yang akhirnya membuatnya melakukan Plagiarisme.

  1. Kurang Percaya Diri.

Si pelaku mungkin kurang ‘pede’ dengan apa yang sudah dikerjakannya, akhirnya memutuskan untuk menjiplak tanpa izin.

  1. Situasi yang terlalu demanding
  2. Manajemen waktu yang buruk

Tidak bisa mengatur waktu, akhirnya dikejar-kejar situasi, akhirnya melakukan plagiarisme.

  1. Malas
  2. Konsekuensi yang tidak jelas

Jadi dalam melakukan plagiarisme, terkadang tidak ada dampak yang jelas, misalnya soal penghukuman dalam tindakan plagiat yang terkadang tidak dihukum sama sekali, membuat orang akhirnya jadi ‘sebodoh amat’ dan akhirnya melakukan plagiarisme.

  1. Bosan atau kurang minat.
  2. Persaingan

Merasa tidak mau kalah dengan yang lain, dan takut dinilai buruk hasil kerjanya, last resort, plagiarisme.

  1. Cultural Difference

Bagi sebagian Negara, plagiarisme tidak dilarang, seperti di Cina yang memperbolehkan memproduksi tas bajakan

Bagaimana cara mengatasi Plagiarisme ?

Di Universitas Indonesia, yang sering terjadi adalah pembajakan kekayaan intelektual atau copy and paste seperti yang disebutkan diatas, dalam pembuatan skripsi. Menurut Ibu Kiftiawati, Dosen Ilmu Sastra dari Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia,  banyak sekali terjadi kasus plagiarisme dalam pembuatan skripsi. Ada yang benar-benar menjiplak karya yang sudah ada sebelumnya, ada yang tidak menuliskan sumber dalam kutipannya, dan banyak kejadian lainnya. Beliau biasanya akan menghukum mereka dengan membatalkan skripsinya, dan jika sudah lulus, skripsinya akan dibatalkan beserta kelulusannya. Beliau juga menambahkan kalau itu adalah cara yang biasanya digunakan oleh dosen-dosen di UI untuk mencegah plagiarisme kekayaan intelektual.

Cara-cara lain seperti yang ditulis oleh Ir. Indriyanto M.P. :

  1. Menulis nama sumber dalam setiap karya yang akan ‘dijiplak’ atau dalam penulisan, ‘dikutip’. Dengan kata lain, menanamkan kejujuran pada diri sendiri ketika menjiplak sesuatu.
  2. Memberi ide penelitian atau karya tulis ilmiah ketika siswa yang dibimbingnya tidak mempunyai ide yang sesuai dengan bidangnya.
  3. memberikan arahan tentang garis besar atau kerangka isi karya tulis ilmiah yang akan dibuat.
  4.  membimbing tata cara penulisan dan metode penelitian yang sesuai dengan tujuan yang hendak dicapai.
  5. membimbing cara pengolahan dan penyajian data yang akan dituliskan dalam karya tulis ilmiahnya.
  6.  memberikan arahan tentang interpretasi serta pembahasan data yang telah diperoleh
  7.  membaca secara teliti semua yang dituliskan bimbingannya dalam karya tulis ilmiah.
  8.  memberikan masukkan atau koreksi terhadap segala kekurangan yang dijumpai pada karya tulis bimbingannya mencakup kaidah penulisan kalimat, cara merujuk suatu sumber pustaka, dan kaidah keilmuan.
  9.  memberikan teladan atau contoh yang baik dan benar berkaitan dengan pembuatan karya tulis ilmiah.

Jadi kesimpulan, penjiplakan itu boleh, tetapi ada tata caranya, dan prinsip utama dalam cara tersebut adalah mencantumkan keterangan sumber. Selain itu, yang ditekankan adalah penjiplakan, bukan pembajakan alias plagiarisme. Plagiarisme adalah kejahatan yang tidak bermoral yang merugikan banyak pihak.

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s