7/21. Renungan : Yesus memanggil Kedua Belas Rasul dan Menyembuhkan Banyak Orang

 

Kisah harian gua kali ini, gua buat waktu lomba BKSN (Bulan Kitab Suci Nasional) di SMA, Yang berbasis dari Lukas 6:12-19. Jadi kalau lu baca ceritanya, itu Yesus lagi memilih kedua belas rasul dan memberkati orang sakit. Dibaca ya.

Yesus memanggil kedua belas rasul

6:12 Pada waktu itu pergilah Yesus ke bukit untuk berdoa dan semalam-malaman Ia berdoa 1  kepada Allah. i  6:13 Ketika hari siang, Ia memanggil murid-murid-Nya kepada-Nya, lalu memilih dari antara mereka dua belas orang, yang disebut-Nya rasul: j  6:14 Simon yang juga diberi-Nya nama Petrus, dan Andreas saudara Simon, Yakobus dan Yohanes, Filipus dan Bartolomeus, 6:15 Matius k  dan Tomas, Yakobus anak Alfeus, dan Simon yang disebut orang Zelot, 6:16 Yudas anak Yakobus, dan Yudas Iskariot yang kemudian menjadi pengkhianat.

Yesus mengajar dan menyembuhkan banyak orang

6:17 2 Lalu Ia turun dengan mereka dan berhenti pada suatu tempat yang datar: di situ berkumpul sejumlah besar dari murid-murid-Nya dan banyak orang lain yang datang dari seluruh Yudea dan dari Yerusalem dan dari daerah pantai Tirus dan Sidon. l  6:18 Mereka datang untuk mendengarkan Dia dan untuk disembuhkan dari penyakit mereka; juga mereka yang dirasuk oleh roh-roh jahat beroleh kesembuhan. 6:19 Dan semua orang banyak itu berusaha menjamah Dia, karena ada kuasa yang keluar dari pada-Nya dan semua orang itu disembuhkan-Nya.

Renungan :

Sunairda, adalah seorang pelatih sepakbola yang sudah melatih beberapa klub sepakbola professional menjadi juara. Tetapi, Sunairda memutuskan untuk menyingkir dari dunia yang telah membesarkan namanya itu, dan melatih klub-klub amatir. Akhirnya, ia memutuskan untuk melatih sebuah tim sepakbola kecil di Gorontalo. Klub itu hanya berisi anak-anak yang baru memulai masa remajanya. Kira-kira 15 tahun. Ketika ia tiba di tempat berlatih tim itu, takjublah ia. Lapangan itu berlumpur, banyak kubangan, dan banyak sekali yang berantakan akibat tongkah laku alam yang tidak dibersihkan dan diatur. Belum lagi, tidak ada fasilitas yang sangat minim. Tetapi, itu tidak membuat Sunairda patah semangat. Ia memutuskan untuk melatih tim itu apa adanya dengan semua yang ada. Ternyata, tidak seburuk yang dia kira. Tim yang ia latih, anak-anak berusia belia itu, banyak yang berbakat, dan memperhatikan apa yang Sunairda katakan. Begitu polosnya mereka sampai-sampai mereka percaya dan mengikuti semua yang Sunairda katakan. Tidak sulit juga bagi Sunairda untuk membuat sebuah tim. Tapi, yang jadi masalah adalah, siapakah yang akan memimpin tim itu? sebentar lagi akan ada sebuah pertandingan yang akan menentukan citra mereka sebagai sebuah tim. Menurut Sunairda, anak-anak yang ada memang berbakat, tapi diantara mereka, Sunairda tidak melihat ada yang bisa mengendalikan timnya. Mereka semua meskipun kompak, tetapi begitu di tengah lapangan, mereka semua memikirkan diri sendiri alias individualis. Sunairda memikirkan ini sampai berhari-hari. Tetapi, ia tidak menemukan sesuatu dari buah keseriusannya itu. Akhirnya ia berdoa dengan khusyuk dan meminta tolong kepada Tuhan sebagai seorang Katolik, memohon diberi rahmat untuk mencari kapten tim yang tepat.

Pada suatu malam, Sunairda sedang berjalan-jalan mencari udara segar. Lalu, dia pergi ke lapangan tempat ia melatih tim. Ia melihat ada seorang anak dari tim, sedang berlatih melakukan tendangan jarak jauh, dan temannya yang satu lagi menjadi kipernya. Penasaran, Sunairda diam-diam mengamati anak itu dari dekat.Anak itu beberapa kali menendang, tetapi, bolanya tidak ada berhasil menjebol gawang. Entah ditangkap oleh kiper atau meleset.

“Ah, lu mah payah, udah ah besok lagi aja latihannya, gua udah ngantuk nih banget nih, pli!”, kata anak yang menjadi kiper itu.

“Yauda lu balik aja, gua latihan sendiri aja”, balas anak yang menendang itu.

“Hah, akhirnya..tapi hati-hati, pli. Katanya di sini banyak setan. Hiii..”

“Ah, takhayul kau percaya. Sudah kau balik saja.”

Lalu, anak itu tinggal sendirian. Dia mulai membawa bola itu dan menggiringnya. Sepertinya dia sedang berlatih dribble. sunairda kemudian menghampirinya. Tetapi, mungkin karena gelap, anak itu malah berpikir yang sebaliknya.

“HAHHH! Setan!!!! Astaga! Dalam nama Yesus! Pergilah kau setan jahanam!”, teriak anak itu.

“Hahahaha..ada-ada saja kau ini..hahahaha, ini aku Pak Irda.”, balas Sunairda tenang.

“Oh, aku pikir siapa habis gelap sih.”

“Nak, sebaiknya kau beristirahat dulu. Ayo duduk di sini, kita ngobrol-ngobrol.”, kata Sunairda yang duduk di lapangan itu. “Namamu Siapa?”, tanya Sunairda.

“Zulkifli pak, panggil saja saya Kipli.”, kata anak itu yang kemudian duduk di lapangan itu juga.

Lalu mereka pun mulai berbincang-bincang. Tentang apa saja yang ada di kepala mereka. Mereka mulai berbicara begitu akrab. Suara tawa menggema di seluruh lapangan itu. Kemudian, sembari tertawa, terlintaslah sesuatu di kepala Sunairda.

“Kipli, menurutmu, dalam suatu tim sepakbola, yang kau anggap penting apa?”, tanya Sunairda kalem.

“Aku? Hmm..menurutku kemampuan seseorang itu penting. tetapi, yang paling penting itu, jelas timnya. Karena, namanya aja tim sepakbola, masa timnya itu hancur dan berantakan? Pasti acak adul dah. Kan, bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh.”, jawab Kipli.

Secercah harapan akhirnya datang. Akhirnya Sunairda menemukan apa yang ia cari. Seorang yang mengerti apa esensi dari sebuah tim sepakbola. Rasanya doanya dikabulkan. Lalu..

“Kalau kamu, jadi kapten tim, apakah kamu siap?”, tanya Sunairda.

“Saya sih siap. tetapi, saya tidak yakin apa saya bisa.”, jawab Kipli rendah.

“Kenapa?”

“Saya takut akan mengecewakan. memang saya tahu tim kita perlu kapten untuk memimpin tim, tapi aku tidak yakin.”

“Hahaha…bagaimana kau tahu sebelum kau mencoba?”, kata Sunairda sambil menepuk kepala Kipli. “Ayo kau coba dulu! aku yakin kau bisa!”.

“Baiklah.”, kata Kipli sambil mengangguk.

Keesokan harinya, tim mulai dipimpin oleh Kipli. Tetapi, tim itu tidak menghargai Kipli sebagai kapten. Bahkan, mereka mulai mengeluh dan mulai memarahi Kipli. Berhari-hari kemudian,  Latihan pun makin kacau. Dan Kipli mulai lebih sering menyantap cemoohan dari tim. Lalu, Kipli pun datang untuk menemui sang pelatih.  Tetapi, Sunairda sedang dimarahi oleh sang pemilik tim.

“KAMU ITU BAGAIMANA SIH!? Masak tim jadi kacau begitu? Kamu ini!”, amuk sang pemilik. “Awas bila aku mengawasi lagi, tim masih seperti ini, kau akan kupecat! Katanya pelatih tim professional. masak melatih yang begini saja tidak bisa?Hah.” Lalu pergi dan meninggalkan lapangan itu.

Sunairda pun terdiam, hari-hari sebelumnya juga ia dimarahi seperti ini. Apakah ada yang salah dengan tim? Sebelum-sebelumnha tidak seperti ini, pikirnya. Kipli datang menghampirinya.

“Ah kipli! Bagaimana latihannya tadi?”, kata Sunairda sambil tersenyum.

“Pak Irda, boleh aku bertanya?”, kata Kipli muram.

“Ada apa? mengapa kau kelihatan muram?”

“Aku baru saja ingin berhenti menjadi kapten begitu melihat kau dimarahi oleh pemilik. Aku selalu dicemooh, dan dimarahi setiap hari selama menjadi kapten. Mirip dengan apa yang bapak alami. Aku sering melihat bapak dimarahi juga kemarin. Tapi, mengapa bapak masih bersikeras melatih? Kalau saya sih sudah keluar..”

“Kalau begitu, aku sudah memilih kamu menjadi kapten….”, potong Sunairda.

“Lah, memangnya kenapa?”

“Pemimpin itu, seharusnya seseorang yang tahan banting. Mereka belajar, dari hal yang buruk sekalipun, seperti cemoohan dan kemarahan. Mereka tidak lari dari tantangan, mereka membuat sesuatu yang tidak ada menjadi ada. Dari yang buruk jadi yang baik. Oleh karena itu, aku tidak akan menyerah melatih tim ini. Nah, sekarang, apakah kau akan mengembalikan kembali posisi kaptenmu?”

“benar juga yang Pak Irda bilang! Baiklah! aku akan mencoba yang aku bisa!!!! aku tidak akan menyerah untuk memimpin timku!”., seru Kipli yang kemudian kembali ke lapangan.

Keesokan harinya, pelatihan pun mulai membaik. Mereka mulai bermain dengan kompak, dan peduli satu sama lain. Mereka mengeluarkan yang terbaik untuk sesama. Sunairda pun bangga. Pemilik tim itu juga. Akhirnya, pada saat pertandingan, tim asuhan Sunairda menang telak. Dengan skor 6-2. Beberapa hari kemudian, tim asuhan Sunairda mulai dikenal di seluruh penjuru negeri, dan mulai menghasilkan prestasi setiap kali bertanding di ajang kompetisi.

Yesus, juga adalah sesosok teladan yang harus kita tiru. Seperti Sunairda, Yesus juga sangat serius dalam memilih rasul yang akan menjadi pemimpin pengikut-Nya. Ia bahkan berdoa semalaman suntuk kepada Bapa, memohon rahmat dan bimbingan. Setelah berdoa itu, akhirnya ia berhasil memilih rasul-rasulnya. Tetapi, sebelumnya ia harus memberi contoh kepada rasulnya tentang apa yang harus mereka lakukan dan hadapi, agar mereka tidak salah jalan. Dalam hal ini, Yesus memberi contoh kepada mereka. Salah satu tugas mereka adalah menyembuhkan umat manusia, seperti yang dilakukan Yesus. Bahkan, bukan hanya itu, kedepannya, mereka harus memimpin sesuatu yang suci dan besar, yang disebut Gereja. Sama dengan yang dilakukan Sunairda, yang memberikan contoh keteguhannya kepada Zulkifli, tentang seperti apakah seorang pemimpin itu. Hari ini, banyak sekali yang bisa diambil. Pertama, keseriusan. Kedua, bagaimana memberikan contoh yang baik.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s