2/21. Research : Stand-up Comedy pt.2 –> Pelatihan Karakter dalam Stand-up Comedy

Apa sih yang sebenarnya membuat Stand-up Comedy begitu menarik? Apa yang menjadi motivasi mereka untuk menekuni Stand-up Comedy?

Pertama, alasannya adalah uang. Ini sih sudah umum. Di zaman ini, siapa sih yang tidak perlu uang? Biasanya ketika seorang comic (pelaku Stand-up Comedy) melakukan performance, akan ada honor (bayaran) yang menantinya. Bahkan jika dikembangkan, ini bisa menjadi bisnis besar untuk comic tersebut, dan uang ‘mengalir sampai jauh. Siapa yang tidak tergiur dengan hal seperti ini? Akhirnya, Stand-up Comedy menjadi sebuah mata pencaharian.

Alasan yang kedua adalah ketenaran atau prestige. Ini juga sudah umum. Dengan menjadi seorang comic professional, tentu popularitas akan datang. Nama comic akan menjadi akan jadi trending topic di masyarakat. Jika dihubungkan dengan alasan yang pertama, Order untuk menjadi comic akan berdatangan, dan uang juga turut mengikuti. Juga, Dengan menjadi seorang comic, akan memunculkan pandangan orang tentang comic tersebut adalah ‘anda adalah orang yang pintar’. Karena materi di Stand-up Comedy perlu pemahaman yang tinggi. Dengan pandangan ‘pintar’ tersebut, kredibilitas akan muncul, dan Order pun akan berdatangan, dan lagi-lagi, uang akan mengikuti.

Tetapi, jika semua yang ingin melakukan Stand-up Comedy di Indonesia hanya mereka memiliki kedua alasan yang ada di atas, Stand-up Comedy kita tidak akan berkualitas, dan mungkin tidak akan berkembang seperti sekarang. Menurut saya, alasan yang tepat adalah alasan yang ketiga, yaitu, Pelatihan Karakter.

Jika kita mengamati jenis-jenis komedi yang sudah muncul dan berkembang di Indonesia sebelum Stand-up Comedy, seperti Physical Comedy, tidak membentuk karakter komedian sekaligus manusia yang baik. Seperti dalam Physical Comedy, yang cenderung menggunakkan kekerasan fisik atau jokes berbau SARA untuk membuat seseorang tertawa. Komedi seperti ini yang memunculkan stereotype, atau labeling dan akhirnya memunculkan perselisihan. Komedi itu tidak hanya sekedar tawa tetapi didalam komedi itu haruslah mengandung sebuah makna di dalamnya yang bisa kita ambil, jadi ada unsur ‘pendidikan’ di dalamnya, dan itu terwujud di dalam Stand-up Comedy.

Saya jadi teringat dengan kata-kata guru saya, Paulus Tri Wahyudi, tentang Stand-up Comedy. Beliau mengatakan bahwa “Stand-up Comedy adalah komedi single yang menggunakkan kecerdasan kata-kata yang digabungkan dengan kepekaan sosial dan aksi panggung”. Kemudian terlintas di benak saya bahwa Stand-up Comedy adalah metode komunikasi, karena ketiga aspek yang disampaikan oleh guru saya adalah cara seorang manusia melakukan komunikasi.

Kecerdasan kata-kata, seorang comic tidak boleh menggunakkan kata-kata yang membuat seseorang salah kaprah, dan kata-kata itu haruslah efektif, dimana penggunaannya harus dapat membuat orang mengerti apa yang kita maksudkan. Kata-kata itu haruslah membuat penonton mengerti, dan membuat penonton tersebut tertawa karena materi yang akan kita sampaikan.

Kepekaan sosial, seorang comic harus mengetahui dan memahami masalah di lingkungan sosial kita, dimana masalah sosial ini adalah materi utama comic tersebut. Kemudian, bagaimana agar membuat masalah tersebut tidak menjadi beban, tetapi menjadi sesuatu yang dapat dimengerti  dinikmati agar tidak melihat masalah itu menjadi sesuatu yang memberatkan, dan salah satunya adalah dengan membuat penonton terhibur, dimana jika mereka terhibur salah satunya ditandai dengan ‘tertawa’. Comic juga harus memberikan sebuah ‘solusi’ dalam masalah yang ada di materinya, sehingga masalah itu tidak hanya menjadi beban dan bahan tertawaan saja, tetapi menjadi sesuatu yang bisa diselesaikan.

Aksi panggung, seorang comic harus mampu menggabungkan dua aspek diatas untuk disinkronisasikan menjadi sebuah aksi yang berhubungan dan lagi, dapat dimengerti oleh penikmatnya. Aksi yang salah, akan memberikan pemahaman yang salah. Pemahaman yang salah akhirnya akan menimbulkan masalah. Aksi itu harus menjadi ‘simbol’ dari apa yang sudah dikatakan, dan harus menjadi simbol dari masalah sosial yang ada.

Ketiga aspek ini harus ada dalam Stand-up Comedy agar menjadi sebuah komedi yang baik.

Ketiga aspek diatas, Kecerdasan kata-kata, Kepekaan Sosial, dan Aksi Panggung sebenarnya memang diwajibkan dan dan sudah diatur dalam Undang-undang’ Stand-up Comedy. Jika tidak menjalankan ‘Undang-undang’ ini, maka seorang pelawak tidak bisa dikatakan sebagai seorang comic, yang artinya ‘Undang’undang’ ini juga mendefinisikan arti dari Stand-up Comedy itu sendiri. Undang-undang tersebut terdiri atas 5 :

  1. Don’t Try to be Funny.

Tujuan anda menjadi seorang comic bukanlah untuk mentertawakan kelucuan anda. Jadi jangan mempermalukan diri sendiri, atau orang lain dengan perilaku atau jokes. Tujuan anda adalah membuat penikmatnya menertawakan masalahnya, bukan anda. Jadi, kekuatan kata-kata dan aksi panggung yang tepat memiliki peran yang krusial di sini.

  1. Don’t Tell Street Jokes.

Jika diterjemahkan secara kasar, artinya adalah “jangan menceritakan jokes murahan”. Murahan di sini adalah jokes-jokes yang tidak informatif, dan tidak bersifat universal. Tidak informatif, karena jokes tersebut biasanya hanya untuk candaan sesaat saja, dan tidak mengandung informasi yang bisa diserap untuk kedepannya. Tidak universal, karena jokes tersebut terkadang tidak bisa diterima oleh sebagian kalangan tertentu, dan ini biasanya dipengaruhi oleh tradisi.

Inti utama dari bagian ini adalah, mengajak dan melatih anda untuk menjadi kreatif. Anda diajak untuk meembuat sebuah joke yang bisa dikatakan ‘belum pernah ada sebelumnya’ tidak seperti street jokes yang sudah cukup pasaran. Anda juga diajak untuk melatih diri anda untuk menjadi sebuah comic yang cerdas, yaitu bisa membuat sebuah jokes yang berkualitas yang dapat di mengerti oleh setiap orang.

  1. Be serious.

Seorang comic harus tampil serius. Layaknya Panglima perang, seorang comic harus berwibawa ketika berdiri di depan comic. Jangan “cengengesan”, karena akan membawa image yang buruk pada penyimak, dan akhirnya comic akan kehilangan atensi dari penyimak. Dengan tidak menjadi serius juga, seorang comic bisa kehilangan pengendalian dirinya atau self-control dan berujung pada penampilan yang buruk.

  1. Don’t Tell Stories.

Jokes yang disampaikan janganlah terlalu panjang dan bertele-tele, karena akan membuat penikmat jadi bosan dan bingung dengan apa yang sebenarnya akan disampaikan. Seorang comic haruslah lugas, padat dan jelas. Isinya tidak panjang, tetapi sudah dapat menggambarkan dan memberikan pengertian tentang materi yang disampaikan. Di bagian ini juga, seorang comic akan diajarkan untuk menghargai waktu. Dengan menyampaikan isi yang lugas, padat dan jelas, maka akan menghemat banyak waktu dibandingkan dengan yang panjang-panjang. Ingat, Time is money.

  1. Santai.

Seorang comic harus membuat para penikmatnya santai, sehingga bisa melepaskan kepenatannya. Jangan membuat penonton merasa tegang, terbebani, bingung atau takut. Seorang comic juga harus lengang dan leluasa dalam menyampaikan materi, jika tidak santai, maka penyampaian materi tidak akan berlangsung dengan lancar. Pemikiran si comic akan menjadi blank dan akhirnya bingung dengan apa yang akan comic tersebut sampaikan.

Kelima hal ini bukan sesuatu yang dipaksakan. Hanya saja, inilah etika dalam ‘berstand-up comedy’. Etika ini disusun dari nilai-nilai kemanusiaan, dan inilah yang melatih comic untuk membentuk karakternya. Tidak hanya saja menjadi seorang comic, tetapi juga menjadi manusia yang baik.

Dua poin penting yang dapat diambil dalam pembentukan karakter dari kelima hal yang disebutkan di atas adalah melatih kita untuk berinteraksi dengan baik dan mengajarkan kita untuk memenangkan ‘pertempuran’ melawan diri sendiri.

Seorang comic harus mampu berinteraksi, karena seorang comic juga adalah seorang manusia, yang adalah makhluk sosial. Berinteraksi berabrti berkomunikasi. Berkomunikasi diperlukan manusia untuk memberitahukan maksudnya kepada manusia yang lain. Melalui stand-up comedy, kita belajar cara mengenal, berbicara dan memulai suatu bahasan dengan cara yang benar melalui Stand-up Comedy. Bagian ini adalah salah satu esensi dari kepekaan sosial yang disampaikan sebelumnya.

Seorang comic juga harus mampu mengalahkan dirinya sendiri. Yang dimaksud mengalahkan disini bukan untuk menghancurkan diri sendiri, tetapi untuk mengontrol diri sendiri. Layaknya mobil, jika manusia itu terlalu oversteer, dimana manusia itu lepas kontrol akan dirinya sendiri terlalu jauh, maka akan membuat dirinya sendiri menjadi orang yang egois. Jika manusia itu terlalu understeer, dimana manusia itu terlalu mengikuti prosedur, maka manusia itu tidak bebas dan leluasa dalam mengembangkan dirinya sendiri dan akhirnya manusia itu merasa terikat. Maka dari itu oversteer dan understeer dalam diri manusia harus seimbang agar terwujud manusia yang baik, dan itu dapat dilatih dalam stand-up comedy.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s