2/21. Pelajaran Hidup : Mendengarkan adalah bentuk komunikasi. Mendengarkan adalah untuk belajar.

vaknlp.com

vaknlp.com

Untuk apa Tuhan menciptakan kita telinga? Tentunya untuk mendengar, dan mengapa Tuhan menciptakannya sebanyak dua buah? Karena Tuhan ingin kita mendengar lebih banyak. Namun, saya, sebagai makhluk ciptaan Tuhan itu sendiri, saya jarang sekali memakainya untuk mendengarkan. Saya lebih memakai lidah saya untuk berbicara, sampai saya menyadari kalau saya banyak berbicara daripada mendengarkan.

Hari ini, saya sedang ada di kantin bersama teman saya, perempuan, bernama Rani. Kami berdua adalah reporter dari sebuah lembaga pers di uiniversitas kami, dan kami berada di kantin tersebut sedang menunggu seorang narasumber untuk membicarakan tentang situasi di kantin tersebut, seperti mengapa harganya berbeda dan cenderung lebih murah di banding kantin lainnya, dan sebagainya. Kami menunggu narasumber itu dalam waktu yang cukup lama, sekitar 30 menit. Kami, meskipun berasal dari lembaga pers yang sama, kami belum mengenal satu sama lain. Saya, bahkan, tidak tertarik untuk mengenalnya lebih lanjut. Kami memang dipilihkan oleh lembaga kami untuk mengerjakan tugas bersama.

Sampai akhirnya, langkah perkenalan itu dimulai oleh Rani. Rani mengajak saya mengobrol terlebih dahulu, dan saya adalah orang yang memang mudah dipancing untuk berbicara, jika ada yang memancing saya untuk berbicara dahulu. Rani mulai menanyakan seluk-beluk tentang diri saya, kemudian tentang lembaga pers yang kami jalani. Setelah itu, barulah giliran saya berbicara. Saya mengeluarkan apa yang menjadi idealisme saya, dan semua unek-unek yang ada dalam pikiran saya padanya, tanpa memberikan kesempatan padanya untuk merespon. Pokoknya ketika itu, saya terus yang berbicara. Sampai akhirnya saya sadar bahwa Rani tidak lagi memperhatikan saya, dan matanya sudah tertuju pada handphonenya. Sejak dari tadi Ia hanya mengangguk-angguk saja mendegarkan perkataan saya.

Di situlah saya sadar pentingnya mendengar. Mendengar adalah suatu bentuk penting dalam komunikasi dimana kita mendapatkan informasi dari orang lain, dan memberikan kesempatan bagi orang lain untuk mengeluarkan apa yang ada dalam hatinya. Mendengar tidak hanya menerima tapi juga bagaimana memberikan respon yang tepat. Itulah mengapa kita sering mendengar istilah “Curhat”, karena seseorang yang sedang curhat tersebut mengharapkan ada sesuatu yang dapat menenangkan hatinya, dari orang yang menjadi tempat curhatnya. Itulah mendengar sebagai bentuk komunikasi, selain berbicara. Karena dengan mendengar, kita menerima apa yang dibicarakan. Apa komunikasi dapat dikatakan efektif jika ada pihak yang terlibat tidak mendengarkan? Bayangkan ketika anda bicara tidak didengarkan. Anda mungkin akan merasa diremehkan, merasa tidak dianggap, atau yang lain-lain, tapi yang paling jelas adalah anda akan sakit hati. Ketika tidak mendengarkan, tidak memunculkan komunikasi yang baik, malah dapat memunculkan perselisihan.

Dalam mendengar, ada 3 tahap yang dijalani :

  1. Menerima

Di tahap ini, anda mendapat masukan dari orang lain.

  1. Menyerap

Di tahap ini, anda mencerna apa yang kita dapat dari orang tersebut, di dalam pikiran dan hati kita, mencoba memahami yang Ia maksudkan.

  1. Respon

Di tahap ini, anda memberikan jawaban atas apa yang anda serap. Inilah yang menjadi bukti apakah anda mendengarkan si pembicara dengan baik atau tidak. Respon tidak harus selalu dijawab dengan kata-kata, dengan gestur(bahasa tubuh), atau bahkan tidak dijawab sama sekali pun tidak apa-apa, selama respon yang ada berikan dapat dimengerti si pembicara dan sesuai dengan apa yang dibicarakan. Namun umumnya, dengan berbicara, orang akan dapat mengerti maksud anda dengan lebih mudah.

Dengan kita mendengarkan orang lain, kita belajar untuk menjadi orang yang terbuka, yang mau menerima masukan, ide, dan lain-lain dari  orang lain. Pernahkah anda sadari ketika anda memperhatikan guru yang sedang menerangkan pelajaran di kelas adalah salah satu bentuk mendengarkan? Kita menerima ilmu dari apa yang Ia sampaikan, dan dari situlah kita mendapatkan definisi mendengarkan berarti belajar.

Saya menemukan sebuah quote yang berbunyi sebagai berikut :

“Dengan berbicara, anda mengulang lagi apa yang sudah anda sampaikan. Dengan mendengarkan, anda mengenal sesuatu yang belum anda ketahui.”

Ini adalah sebuah quote yang dapat dari seseorang di lembaga media universitas saya, bernama Amal. Dari quote-nya itu, saya menyadari bahwa ketika saya ingin belajar, saya harus lebih banyak mendengarkan orang lain, karena ketika kita banyak berbicara, kita hanya mengeluarkan apa yang sudah kita ketahui. Bahkan meskipun kita mendengarkan sesuatu yang sudah kita ketahui, karena setiap orang punya pandangan yang berbeda akan sesuatu, dan dengan itu anda akan memperkaya pengetahuan anda. Mendengarkan tidak hanya berbentuk audio (suara) saja, tetapi seperti membaca, anda juga mendengar orang lain melalui tulisannya.

Nah, mendengar itu menguntungkan bukan? Bahkan lebih menguntungkan daripada berbicara itu sendiri. Marilah kita mulai mendengar lebih banyak daripada kita berbicara, dan berbicara seperlunya.

Terakhir, saya ingin menutup dengan quote dari Vijay Eswaran :

“Anda harus mendengar dua kali lebih banyak daripada anda berbicara. Anda harus melihat dua kali lebih banyak daripada anda berbicara. Anda harus mencium dua kali lebih banyak daripada anda berbicara.”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s